Logo Bloomberg Technoz

“Sistem ini mampu menyerap sekaligus mengolah berbagai jenis sampah, baik sampah baru maupun sampah lama yang sudah menumpuk di tempat pembuangan akhir,” tambahnya. 

Rosan berkaca dari kunjungannya ke beberapa negara seperti China dan Jepang, ia optimistis fasilitas PLTSa di Bali akan jauh dari kesan kotor dan bau.

"Di China, [PSEL] itu dibangun di tengah permukiman elite. Sangat bersih dan tidak ada bau sama sekali. Bahkan di belakangnya dibangun taman bacaan dan ruang rekreasi untuk anak-anak," ungkapnya.

Ia meyakini kehadiran PLTSa di Bali kelak akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap tempat pengelolaan sampah. Tempat tersebut justru diproyeksikan menjadi pusat edukasi dan area publik yang bermanfaat.

Dalam pelaksanaannya, Danantara resmi menggandeng perusahaan China, Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. Mereka bermitra dengan perusahaan nasional seperti Solusi Environment Asia (SOFA) untuk mengembangkan fasilitas waste to energy ini.

“Kita melihat bahwa Zhejiang Weiming adalah partner yang terbaik untuk Bali, dan juga kita melihat komitmennya,” ungkapnya. 

Sebelumnya, BPI Danantara menargetkan proses groundbreaking atau peletakan batu pertama atas 3 proyek PLTSa yang berada di Denpasar Raya, Bandung Raya, dan Bogor Raya dapat dilakukan pada Juni 2026.

Director of Investment Danantara Investment Management (DIM) Fadli Rahman menyatakan target ini dibidik usai pengumuman pemenang tender dilaksanakan, berlanjut pada proses persiapan pembangunan yang dimatangan pada dilakukan Juni.

“Jadi di ketiga lokasi ini sudah dimulai persiapan pembangunannya, dan akhir Juni nanti konstruksi akan dimulai,” kata Fadli dalam taklimat media, dikutip Jumat (10/4/2026).

“Kenapa awalnya dibilang groundbreaking-nya Maret atau Juni? Kita sebenarnya ingin cepat aja. Groundbreaking kan sifatnya lebih seremonial seperti yang teman-teman yang tahu,” tegasnya.

Fadli mengungkapkan nilai investasi pada masing-masing proyek PLTSa tersebut sekitar Rp2,5 hingga Rp2,8 triliun.

Ihwal struktur kepemilikan, sekitar 70% saham setiap proyek bakal dimiliki oleh Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) dan 30% sisanya dimiliki anak usaha Danantara Investment Manager (DIM), PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera).

“Pendanaannya mix, debt-to-entity, jadi tidak terlalu tinggi, debt-nya cost-nya cukup besar, sekitar 70%. Dan ini, ini adalah foreign direct investment, yang bagus untuk iklim investasi di Indonesia,” tegas Fadli.

Sekadar informasi, Danantara telah mengumumkan dua mitra terpilih proyek PLTSa di Bekasi dan Denpasar. Dua perusahaan pemenang lelang tersebut sama-sama berasal dari China.

Danantara menetapkan Wangneng Environment Co Ltd sebagai operator untuk PLTSa di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd sebagai operator untuk PLTSa di Denpasar.

Setelah itu, Danantara kembali menetapkan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd sebagai pemenang tender proyek PLTSa di Bogor Raya.

Nantinya, mitra pengelola diwajibkan membentuk konsorsium guna mendorong transfer teknologi dan kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah daerah dan perusahaan Indonesia.

(smr/ros)

No more pages