Logo Bloomberg Technoz

DCII menempati urutan ke-2 movers IHSG pada Senin (6/7/2026). Saat itu, nilai transaksi DCII berkisar Rp575 juta. DCII menyumbang 9,4 poin untuk IHSG kemarin.

Value transaksi DCII sangat kecil, namun memberikan kontribusi yang cukup besar bagi IHSG,” dikutip dari catatan tim riset Sinarmas Sekuritas, Selasa (7/6/2026).

Top Mover IHSG 3 Juli (Bloomberg)

Situasi itu, menurut Sinarmas Sekuritas, menciptakan ilusi zona hijau pada IHSG. Alasannya, sebagian besar saham di pasar sebenarnya tengah terkoreksi atau mencatat kenaikan yang relatif terbatas.

Ilusi zona hijau indeks komposit itu disebabkan karena IHSG menggunakan metode perhitungan bobot berbasis kapitalisasi pasar atau market-cap weighted.

Dengan demikian, kapitalisasi jumbo dari saham DCII membuat setiap kenaikan persentase kecil pada DCII langsung memberikan dampak poin yang masif bagi pergerakan IHSG.

“Fenomena ini menciptakan fatamorgana psikologis yang membuat pasar modal seolah-olah sedang dalam kondisi sehat atau bullish. IHSG IHSG terlihat menguat atau berwarna hijau di layar monitor, tetapi mayoritas harga saham di pasar sebenarnya sedang terkoreksi atau kenaikan yang masih terbatas.,” dikutip dari catatan yang sama.

Sementara itu, saham PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masing-masing menempati peringkat movers pertama dan kedua untuk IHSG pada 3 Juli 2026. BBCA dan AMMN menyumbang 22,24 poin dan 11,04 poin untuk indeks komposit.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menopang IHSG pada perdagangan Senin (6/7/2026) dengan menyumbang 11,72 poin. Adapun, BBCA menempati urutan ke-3 sebagai pendorong IHSG yang menyumbang 6,6 poin.

Top Mover IHSG 6 Juli (Bloomberg)

IHSG menguat 0,69% ke level 5.916 pada perdagangan kemarin. Padahal, transaksi yang dihimpun hanya sekitar Rp9,5 triliun yang melibatkan 19,83 miliar saham.

Dari lantai bursa, saham DCII menguat 10,22% ke level Rp198,950 per saham selama satu pekan terakhir. Ekspektasi harga saham itu berbanding terbalik dengan laba DCII yang malah minus 9,81% ke level Rp377,76 miliar pada kuartal I-2026.

Struktur Saham 

Mengutip terminal Bloomberg, saham beredar atau free float DCII mencapai 2,38 miliar saham atau setara 22,36%.

Saham free float itu terdiri dari 18,55% saham masyarakat non warkat dan 3,81% saham masyarakat warkat.

Tiga pendiri sekaligus pengendali DCII Otto Toto Sugiri atau Toto Sugiri, Marina Budiman dan Han Arming Hanafia menguasai 66,52% saham perseroan.

Otto Toto Sugiri Co-Founder dan Presiden Direktur PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Fotografer: Bloomberg Businesssweek Indonesia

Adapun, konglomerat Anthoni Salim menguasai 11,12% saham DCII atau sekitar 336,5 juta lembar saham atas nama pribadi.

Bos Grup Salim itu sempat mencatatkan transaksi atas nama sendiri sebanyak 6,5 juta saham DCII pada perdagangan Jumat (3/6/2026).

Nilai transaksi Anthoni Salim yang melibatkan broker PT Net Sekuritas Indonesia (OK) itu sekitar Rp1,23 triliun, dengan asumsi harga pelaksanaan Rp189.900 per saham.

Selain Anthoni Salim, Bing Moniaga turut menjadi investor individu di DCII dengan kepemilikan 4,23% atau setara 100,86 juta saham.

Di sisi lain, investor institusi yang memegang saham DCII di antaranya Skyhills Capital SPC sebanyak 4,61%, Fortune Yiled Investment Spc sebanyak 4,2%, Chang Cheng Investment Holding sebanyak 3,73%, Peak Harvest sebanyak 3,13% dan Graha Sentosa Aditama Maju sebanyak 2,67%.

(naw)

No more pages