Ryan mengatakan kenaikan itu utamanya didorong oleh pemulihan bisnis emas. Dalam hal ini, perseroan menargetkan produksi emas mencapai 935 kilogram pada tahun ini atau meningkat sekitar 25,8% dibanding tahun sebelumnya, sementara volume penjualan diproyeksikan mencapai 43-45 ton atau tumbuh 15%-20%.
“Kekurangan pasokan bahan baku yang terjadi pada paruh kedua 2025 secara bertahap mulai normal setelah ANTM memperoleh pasokan alternatif dari sumber tambang lain," tulis Ryan.
Menurutnya, kondisi tersebut memungkinkan bisnis emas kembali tumbuh lebih cepat di tengah harga emas yang masih tinggi.
Selain emas, Ryan melihat bisnis bijih nikel tetap menjadi motor utama profitabilitas ANTM. Perseroan telah mengantongi RKAB bijih nikel sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2026 atau naik 12,3% dibanding tahun sebelumnya sehingga memberikan kepastian volume produksi untuk sisa tahun ini.
"Investment case ANTM lebih bergantung pada kemampuan perusahaan memaksimalkan penjualan bijih nikel ke pihak ketiga dibanding pemulihan bisnis feronikel," imbuh Ryan.
Ryan menyebut, bisnis feronikel dinilai masih menghadapi tekanan akibat tingginya biaya energi dan ketidaksesuaian harga pasar, sementara penjualan bijih nikel menawarkan margin yang lebih menarik.
JP Morgan juga mempertahankan rekomendasi overweight terhadap saham ANTM.
Laba bersih perseroan diproyeksikan mencapai Rp12,38 triliun pada 2026, kemudian meningkat menjadi Rp15 triliun pada 2027 dan Rp16,88 triliun pada 2028. Estimasi tersebut masih sekitar 28%-43% di atas konsensus pasar.
Meski mengakui masih terdapat sejumlah sentimen jangka pendek, JP Morgan menilai fundamental ANTM tetap menarik.
"Secara keseluruhan kami tetap menyukai saham ini dan percaya sebagian besar kabar buruk telah tercermin pada harga saham saat ini," tulis analis JP Morgan Benny Kurniawan dalam risetnya.
Benny menilai, prospek ANTM ditopang oleh tiga faktor utama. Pertama, harga bijih nikel saprolit diperkirakan tetap kuat karena tambahan RKAB baru lebih banyak berasal dari bijih limonit.
Kedua, potensi imbal hasil dividen masih menarik. Ketiga, sensitivitas laba terhadap penurunan harga emas relatif terbatas karena model bisnis pemurnian emas ANTM.
"Pada akhirnya ada tiga faktor yang menopang keyakinan kami terhadap ANTM, yakni harga bijih nikel yang tetap kuat, potensi dividend yield yang menarik, dan sensitivitas yang terbatas terhadap pergerakan harga emas," ungkap Benny.
(cpa/naw)





























