Logo Bloomberg Technoz

"Oleh karena itu, itu yang harus menjadi perhatian. Tetapi kalau kita lihat outlook 12 bulan ke depan sih relatif mereka lebih optimistis," imbuh Airlangga. 

Laporan terbaru S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia anjlok ke level 46,9 pada Juni 2026, posisi ini turun drastis dari sebelumnya di level 50,0 pada Mei 2026. Adapun, angka indeks di bawah 50 mengindikasikan sektor manufaktur sedang berada dalam fase kontraksi. 

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa kesehatan sektor manufaktur Indonesia telah menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir, sekaligus menutup kinerja semester pertama 2026 dengan catatan lesu. 

"Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," beber Usamah.

Tak hanya itu, S&P Global juga mencatat penurunan PMI Manufaktur Indonesia dipicu oleh melemahnya permintaan atas barang manufaktur domestik akibat lesunya daya beli dan tekanan harga. Penurunan permintaan juga terjadi pada pasar ekspor akibat kenaikan harga, yang tercatat sebagai penurunan paling tajam sejak Agustus 2021. 

Di sisi lain, laporan tersebut juga mengonfirmasi pernyataan Airlangga mengenai hambatan rantai pasok. Tekanan harga dilaporkan turut memperparah penundaan rantai pasokan pada Juni, yakni waktu pengiriman dari pemasok tercatat mengalami perpanjangan.  

Kondisi ini juga diperparah oleh inflasi harga input akibat melonjaknya harga bahan baku dan pergerakan nilai tukar yang menekan struktur biaya perusahaan.

(lav)

No more pages