Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,3% dari 1,9%, atau mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI). Kenaikan inflasi ini menunjukkan bahwa tekanan harga tak lagi berasal dari pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh depresiasi rupiah dan biaya energi yang lebih tinggi. Di sisi lain, permintaan domestik juga menunjukkan tanda-tanda moderasi setelah ekspansi yang kuat pada kuartal pertama tahun ini.

Di pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 4,9% dari 4,8%. Meski kenaikan ini relatif kecik, tapi menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja mulai melambat seiring moderasi aktivitas ekonomi.

Dengan inflasi yang meningkat sementara pasar tenaga kerja tidak mengalami perbaikan signifikan, daya beli masyarakat berpotensi kembali tertekan pada paruh kedua 2026. 

Indikator eksternal juga diperkirakan mengalami tekanan. Bloomberg Economic Survey memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar jadi 1% terhadap PDB. Angka ini jauh lebih dalam dari tahun sebelumnya, yang hanya 0,1%. 

Turunnya harga komoditas, meningkatnya impor barang modal dan energi, serta melemahnya ekspor diperkirakan jadi faktor utama yang memperbesar kebutuhan pembiayaan dari luar negeri. 

Konsekuensinya, ketergantungan Indonesia terhadap arus modal asing diproyeksikan akan kembali meningkat. Apabila investor asing tetap masuk ke pasar obligasi dan saham, kondisi ini mungkin masih dapat dikelola dengan baik.

Namun, jika gejolak global kembali terjadi, seperti kenaikan imbal hasil obligasi AS atau penguatan dolar AS, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat lebih besar daripada dua tahun terakhir. 

Fiskal

Dari sisi fiskal, defisit Aanggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan melebar menjadi 2,9% terhadap PDB, dibanding 2025 di level 2,6%. Angka ini memang masih berada di bawah batas legal 3%, tetapi menunjukkan bahwa ruang fiskal pemerintah kian terbatas. 

Tahun ini, pemerintah menghadapi tantangan untuk membiaya berbagai program prioritas sekaligus menjaga disiplin fiskal di tengah penerimaan negar ayang berpotensi melemah akibat normalisasi harga komoditas. 

Kombinasi defisit transaksi berjalan yang lebih besar, dan defisit fiskal yang melebar menciptakan apa yang disebut banyak ekonom dan analis sebagai twin deficits.

Kondisi ini tak selalu berujung pada krisis, meski secara historis membuat nilai tukar menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global. Artinya, stabilitas rupiah pada 2026 akan lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Suku Bunga

Bloomberg memperkirakan BI Rate berada di kisaran 5,6% pada 2026, lebih tinggi daripada estimasi sebelumnya 4,75%. Sepertinya pasar mulai memperkirakan BI harus mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat lebih lama dari sebelumnya. 

Penyebabnya bukan semata-mata karena inflasi, tetapi disebabkan pelemahan rupiah, meningkatnya defisit transaksi berjalan, dan kebutuhan menjaga daya tarik aset keuangan domestik. 

Hal ini tercermin pada pasar obligasi. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun diperkirakan naik menjadi 6,32%, sedangkan tenor 10 tahun meningkat menjadi 6,65%.

Sebenarnya kenaikan yield di seluruh tenor telah terjadi beberapa waktu terakhir dan menyentuh di level 7%. Kondisi ini menggambarkan bahwa investor telah meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia. 

Bahkan yield SBN sempat mengalami inversi di mana imbal hasil tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Yield tenor 1 tahun sempat di 7,09%, saat tenor 10 tahun masih di kisaran 6,69%. Namun, kurva yield kembali mendatar beberapa pekan setelahnya.

Hari ini (29/6/2026), yield obligasi tenor 1 tahun berada di 7,16%, sementara yield tenor 10 tahun berada di 7,15%. Mendatarnya kurva imbal hasil ini dapat mencerminkan dua hal. 

Pertama, pasar memperkirakan suku bunga jangka pendek akan tetap tinggi dalam waktu yang cukup lama. Kedua, ekspektasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang belum akan mengalami perbaikan yang berarti. 

Dengan kata lain, investor belum melihat adanya katalis yang bisa mendorong ekonomi tumbuh jauh di atas 5% dalam beberapa tahun ke depan. 

Proyeksi Ekonomi

Di sisi lain, probabilitas resesi Indonesia yang hanya 10% jadi kabar baik yang perlu disyukuri. Hal tersebut menunjukkan fundamental domestik masih relatif kuat dibanding banyak negara lain. 

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertummbuhan, perbankan masih berada dalam kondisi sehat, serta rasio utang pemerintah terhadap PDB etap terkendali. Risiko yang dihadapi Indonesia pada 2026 lebih mengarah pada perlambatan bertahap, daripada kontraksi ekonomi. 

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi menggambarkan bahwa tantangan selanjutnya bukan cuma menjaga pertumbuhan tetap positif, tetapi meningkatnya kualitas pertumbuhan itu sendiri. Sebab, pertumbuhan 5% menjadi kurang berkualitas jika harus dibayar dengan suku bunga tinggi, defisit eksternal yang melebar, dan ruang fiskal yang kian sempit. 

(dsp/aji)

No more pages