Di sisi lain, bagi sebagian negara kawasan sentimen domestik ikut menopang mata uang. Seperti ringgit Malaysia tertopang oleh data Foreign Direct Investment (FDI) yang melonjak 41,2%.
Di sisi lain, peso Filipina juga menguat setelah obligasi pemerintah Filipina mencatatkan reli pada perdagangan hari ini. Selain itu, gubernur bank sentral Filipina menginsyaratkan adanya kemungkinan langkah hawkish pada Agustus, setelah menaikkan suku bunga 25 bps pada 18 Juni.
Sementara, bagi rupiah yang sempat mendapat tekanan dari tertundanya penilaian MSCI, ditambah kabar turunnya tingkat daya saing Indonesia ke posisi 48 (sebelumnya 40) dari 70 negara, mendapat sedikit kekuatan untuk mempertahankan posisi agar tidak merosot lebih dalam.
Di samping itu, Bank Indonesia (BI) kemarin memperbesar nilai yang dimenangkan dalam SRBI menjadi Rp18 triliun dari lelang Jumat (19/6) yang hanya Rp5,5 triliun, kala pergerakan rupiah kembali melemah dan berada di kisaran Rp17.956/US$.
Sepertinya, SRBI terlihat lebih menarik di mata investor lantaran menawarkan imbal hasil (yield) lebih tinggi untuk durasi jauh lebih rendah. Sebagai perbandingan yield SRBI 12 bulan tercatat 7,7%, sedangkan surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun berada di 7,16%.
(dsp/aji)






























