Logo Bloomberg Technoz

Bahlil Buka Taktik Tutup Beban Subsidi BBM: Lewat Royalti Minerba

Sabrina Mulia Rhamadanty
25 June 2026 16:30

BBM bersubsidi di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian
BBM bersubsidi di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui keputusan untuk menaikkan tarif royalti nikel dan batu bara pada 2025 adalah salah satu cara untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM).

“Bagaimana cara mendapatkan pendapatan tambahan? Kita naikkan beberapa royalti. Kita naikkan royalti nikel, kita naikkan royalti batu bara, dan beberapa sektor lain. Itu kita bisa dapat uang sekitar Rp30—Rp35 triliun,” kata Bahlil dalam agenda Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2026, Kamis (25/6/2026).

Adapun, terkait dengan beban subsidi BBM menggunakan Indonesian Crude Price (ICP) di level US$70/barel dalam APBN 2026, Bahlil menyebut hal ini membuat Indonesia harus mengeluarkan subsidi sekitar Rp200 triliun per tahun dengan pendapatan negara sebesar US$10,8 miliar.


“Di dalam target APBN kita, kalau ICP US$70, itu pendapatan negara US$10,8 miliar,” ungkap Bahlil.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026). (Bloomberg Technoz/Azura Yumna)

Menurutnya, jika ICP dilentingkan di level US$90/barel, pendapatan negara berada di angka US$14,3 miliar dan jika ICP yang ditetapkan naik menjadi US$100/barel, pendapatan negara berada di angka US$17,6 miliar.