Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut terjadi karena kandungan fatty acid methyl ester (FAME) yang menjadi bahan utama biodiesel memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air.

"Sifat higroskopis FAME membuat bahan bakar lebih mudah menyerap kelembaban dari udara. Kandungan air yang tinggi di dalam sistem bahan bakar berpotensi menurunkan efisiensi pembakaran, memicu korosi pada komponen mesin, serta mempercepat kerusakan injektor dan penyumbatan filter bahan bakar," jelasnya.

Selain itu, biodiesel juga memiliki karakteristik sebagai pelarut yang kuat. Kondisi tersebut menyebabkan endapan kotoran yang selama ini menempel pada tangki dan saluran bahan bakar terlepas dan terbawa aliran bahan bakar sehingga meningkatkan risiko penyumbatan filter.

Perhapi menilai peningkatan kandungan FAME menjadi 50% pada B50 berpotensi memperbesar dampak tersebut.

Terlebih, sebagian besar alat berat yang digunakan industri pertambangan sejak awal tidak dirancang untuk menggunakan biodiesel dengan kandungan tinggi.

“Produsen alat berat global dari China, Korea Selatan, Jepang, Jerman, hingga Amerika Serikat umumnya tidak memberikan garansi apabila peralatan dioperasikan menggunakan bahan bakar di luar spesifikasi yang direkomendasikan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga memprediksi industri pertambangan bakal memikul beban tambahan dari implementasi mandatori biodiesel B50. 

Ketua Komite Pertambangan Minerba Apindo Hendra Sinadia mengungkapkan biaya operasional penambang sudah mengalami kenaikan sejak penggunaan B40 pada 2025.

Terlebih, dalam program B40 ‘subsidi’ hanya diberikan khusus sektor pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

Dia menjelaskan biaya bahan bakar dalam perusahaan pertambangan umumnya mencapai 25%—35% dari total biaya operasional, sehingga setiap kenaikan biaya bahan bakar bakal sangat berdampak terhadap keberlangsungan bisnis pertambangan.

“B40 sudah memberatkan, jadi kalau ditambah ke B50 tentu lebih berat lagi beban biayanya. Apalagi, harga bahan bakar naik dan biaya bahan bakar di perusahaan tambang itu besar, bisa 25%—35% dari total biaya operasional,” kata Hendra ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) Bambang Tjahjono juga sempat mengungkapkan bahwa penggunaan B50 akan membuat penggunaan bahan bakar lebih boros sekitar 7%—10% dibandingkan dengan penggunaan B40.

Di sisi lain, penggunaan biodiesel dengan campuran FAME yang tinggi berpotensi membuat perawatan mesin menjadi lebih sering gegara sifat higroskopis dari biodiesel.

Cost dari fuel yang tadinya sekitar 35% mungkin akan jadi 40%, [bahkan] karena harga BBM [industri] meroket di atas Rp20.000, mungkin cost BBM diatas 50%,” kata Bambang ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).

Sejarah Mandatori Biodiesel di RI (Bloomberg Technoz)

Meski begitu, dalam pidato terbarunya, Presiden Prabowo Subianto memastikan mandatori B50 atau bahan bakar dengan pencampuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit itu akan diluncurkan pada 1 Juli 2026.

Menurut Prabowo, mandatori B50 ini menjadi salah satu langkah yang dilakukan agar Indonesia dapat menuju swasembada energi, khususnya menekan impor solar.

“Bulan Juli ini, beberapa hari lagi kita akan launching B50, B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50%. Dengan demikian kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara,” ungkap Prabowo dalam pidatonya di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Prabowo menambahkan, dalam jangka waktu 3 tahun atau maksimal 4 tahun dari sekarang, Indonesia dapat melakukan swasembada energi termasuk tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis apapun.

“Saya perkirakan 3 tahun lagi, maksimal 4 tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak akan impor apapun untuk BBM, untuk energi kita saudara-saudara,” tegasnya.

(smr/wdh)

No more pages