Logo Bloomberg Technoz

Setelah reformasi digulirkan oleh otoritas, MSCI menilai efektivitasnya masih perlu dipantau, dan akan kembali ditinjau pada November mendatang. 

Jika melihat mata uang kawasan yang kompak berada di zona merah, maka terlihat bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Pelaku pasar mulai mengantisipasi sikap yang lebih agresif dari bank sentral AS, setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan inflasi masih bertahan di atas 2%. 

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan Federal Funds Rate (FFR) secara bertahan hingga total 50 basis poin (bps) dalam dua pertemuan mendatang, yakni Oktober dan Desember. 

Ekspektasi ini lantas mendorong investor global kembali memburu aset berbasis dolar AS yang menawarkan imbal hasil tinggi dengan risiko relatif rendah. 

Arus modal tersebut terlihat dari naiknya permintaan terhadap US Treasury yang mengalami penurunan imbal di semua tenor. Tenor 2 tahun (-2,9 bps) 4,19%, tenor 3 tahun (-2,8 bps) 4,21%, tenor 5 tahun (-2,1 bps) 4,26%, tenor 10 tahun (-1,4 bps) 4,49%. 

Sedangkan, pergerakan yield surat utang RI berdenominasi dolar AS (INDON) cukup beragam. Yield tenor 2 tahun masih mencatat penurunan 0,2 bps ke 4,24%, 5 tahun naik 0,3 bps ke 4,84%. Namun tenor acuan 10 tahun, turun 1,5 bps jadi 5,43%. 

Naiknya permintaan terhadap US Treasury membuat kebutuhan terhadap dolar AS semakin tinggi, hal ini yang menopang penguatan greenback terhadap hampir selusuh mata uang utama dan negara berkembang. 

Ke depan, perhatian pasar akan kembali tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia. Pelaku pasar memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga, setidaknya dua kali lagi tahun ini sebesar 50 bps pada pertemuan berikutnya secara bertahap, hingga menjadi 6,25%.

(dsp/aji)

No more pages