Logo Bloomberg Technoz

Penguatan dolar AS dipicu oleh nada hawkish The Fed, yang sepertinya akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali pada tahun ini. 

Ekspektasi tersebut membuat investor mengalihkan sebagian aset mereka ke pasar AS. Hal ini terlihat pada pergerakan imbal hasil (yield) US Treasury yang tercatat turun pada semua tenor. Tenor 2 tahun tutun 3,4 basis poin (bps) ke 4,19%, tenor 5 tahun turun 2,3 bps ke 4,26%, dan tenor 10 tahun turun 1,4 bps ke 4,49%. 

Dari dalam negeri, kabar terkait penundaan evaluasi terhadap pasar saham oleh MSCI masih akan mewarnai pergerakan pasar keuangan domestik. Penyusun indeks global tersebut menyatakan masih membutuhkan banyak waktu untuk menilai efektivitas reformasi transparansi yang baru diterapkan. 

Meski ada penundaan evaluasi, MSCI masih mempertahankan status Indonesia sebagai emerging markets, dan setidaknya dengan menyandang status tersebut pasar saham domestik terhindar dari aksi jual yang lebih masif. 

Sementara, aksi jual masih mewarnai di pasar obligasi domestik pada sebagian besar tenor. Namun, pada tenor tertentu imbal hasil tercatat turun, seperti tenor 1 tahun turun 7,1 bps ke 7,19%, lalu tenor 4 tahun turun 0,5 bps ke 7,29%, dan tenor 6 tahun turun 0,1%. 

Pada lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin, penawaran masuk tercatat turun 0,26% menjadi Rp46,58 triliun dari sebelumnya Rp46,7 triliun. Meski begitu, pemerintah memenangkan penawaran lebih banyak 13,85% menjadi Rp30 triliun, dari posisi lelang sebelumnya yakni Rp26,35 triliun. 

Keberanian pemerintah menyerap lebih banyak permintaan yang masuk lantaran yield yang diminta investor cenderung lebih rendah dari lelang sebelumnya. Investor juga terlihat semakin agresif membeli tenor menengah dan membuat pemerintah dapat memperoleh biaya utang lebih murah. 

Meski lelang SUN lebih berkualitas, pergerakan SUN domestik masih akan dibayangi oleh penguatan dolar AS dan langkah investor yang cenderung memburu aset safe haven

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 24 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah hari ini. Target pelemahan terdekat menuju level Rp17.900/US$ yang merupakan support pertama dan berikutnya berpotensi tertahan di level Rp17.960/US$.

Jika nantinya nilai tukar rupiah bertengger di atas level Rp18.000/US$ usai tertekan, maka masih ada kemungkinan untuk melemah lebih lanjut hingga mencapai Rp18.100/US$.

Sementara itu, trendline sebelumnya untuk  time frame harian menjadi resistance psikologis potensial yaitu Rp17.800/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan ada di Rp17.700/US$.

(riset/aji)

No more pages