Logo Bloomberg Technoz

Turunnya aktiva luar negeri bersih ini disebabkan oleh kenaikan kewajiban kepada bukan penduduk yang melonjak 34%, setara Rp204,1 triliun secara tahunan, dari Rp599,5 triliun menjadi Rp803,6 triliun.

Konsekuensi Ekonomi

Keberhasilan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar memiliki konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi. Hal ini terlihat dari terbatasnya ruang ekspansi likuiditas perbankan dalam data uang primer periode Mei.

Giro bank umum di BI tercatat turun menjadi Rp417,6 triliun, dari posisi Maret Rp417,6 triliun. Ini menggambarkan likuiditas yang tersedia di sistem perbankan tak lagi selonggar beberapa bulan sebelumnya.

Dalam kondisi tersebut, bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit yang dapat berpotensi menahan ekspansi investasi dan aktivitas produksi untuk segmen korporasi atau industri. Sedangkan bagi segmen rumah tangga, dampaknya dapat muncul melalui terbatasnya pertumbuhan kredit konsumsi atau pembiayaan sektor riil.

Namun, secara tahunan, giro bank umum di BI tercatat masih tumbuh 14% dari posisi Mei 2025 yang tercatat Rp366,3 triliun. Begitu juga dengan giro bank umum di BI (adjusted) tumbuh 11,7%, bertambah Rp87,5 triliun dari Rp750,2 triliun pada Mei 2025, menjadi Rp837,6 triliun pada Mei 2026.

Meski begitu, data uang primer edisi Mei tetap memperlihatkan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya mengalami pelemahan. Uang kartal yang diedarkan tumbuh 12,1% menjadi Rp1.323,7 triliun pada Mei, dari periode yang sama tahun lalu.

Meningkatnya peredaran uang tunai di masyarakat ini menunjukkan bahwa aktivitas transaksi dan konsumsi masyarakat masih berlangsung secara positif dan menopang pertumbuhan ekonomi.

Sementara dari sisi fiskal, kewajiban BI kepada pemerintah tercatat turun 33,4% sekitar Rp150 triliun, menjadi Rp300,2 triliun, dibandingkan tahun lalu Rp450,5 triliun.

Hal ini mengindikasikan setidaknya sebagian dana pemerintah yang sebelumnya tersimpan di BI mulai mengalir ke perekonomian melalui belanja negara. Dengan kata lain, fiskal mulai mengambil peran lebih besar untuk menopang pertumbuhan di tengah kondisi moneter yang ketat.

Bukan tanpa sebab, memasuki kuartal II-2026 risiko eksternal semakin tinggi, membuat kebijakan moneter tak punya cukup ruang untuk sepenuhnya mendukung pertumbuhan. Sepanjang kuartal II-2026, rupiah telah melemah 4,76%, padahal pada kuartal I-2026 pelemahan rupiah relatif terbatas, hanya 1,79%. Sehingga, sepanjang tahun ini pelemahan rupiah tercatat sebesar 6,47% dan menjadi mata uang terlemah di kawasan Asia.

Dengan begitu, data uang primer kali ini menggambarkan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan dengan dukungan konsumsi rumah tangga, dan belanja pemerintah, sementara kontribusi kredit dan investasi swasta cenderung terbatas.

(dsp/aji)

No more pages