Selain itu, pasar juga masih mencermati arah klasifikasi saham yang diumumkan MSCI pada Rabu (24/6/2026) mendatang, waktu Indonesia.
Permintaan dan Penyerapan Menurun
Pada lelang SRBI hari Jumat terlihat adanya pergeseran preferensi investor. Permintaan investor juga tercatat turun tajam, 28,1%, menjadi Rp42,8 triliun, dari posisi sebelumnya Rp59,49 triliun.
Penurunan terbesar terjadi di tenor 12 bulan, menjadi Rp37,19 triliun dari sebelumnya Rp47,78 triliun. Sepertinya minat investor pada tenor 12 bulan mulai berkurang, setelah BI menaikkan suku bunga dan rupiah mulai pulih dari tekanan, sebelum BI Rate naik pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.
Pulihnya tekanan terhadap rupiah juga membuat BI menjadi lebih selektif dan hanya menyerap 13% dari total penawaran masuk, senilai Rp5,5 triliun. Padahal, BI menyerap 72% pada lelang sebelumnya, dengan total Rp43 triliun.
|
Tenor |
Lelang 17 Juni |
Lelang 19 Juni |
|
6 bulan |
Rp350 miliar |
Rp3,7 triliun |
|
9 bulan |
Rp100 miliar |
Rp521 miliar |
|
12 bulan |
Rp42,55 triliun |
Rp1,28 triliun |
Nampaknya BI menganggap stabilisasi rupiah mulai tercapai. Rupiah siang ini masih berada dekat area Rp17.750-17.850/US$. Selain itu, BI juga sepertinya tidak ingin membayar yield terlalu tinggi lebih lama.
Di sisi lain, sentimen global yang sempat membaik pekan lalu ikut meredakan harga minyak mentah, meski siang ini kembali naik karena ketegangan baru yang dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump.
Turunnya angka penyerapan ini juga menunjukkan bahwa urgensi intervensi likuiditas mulai sedikit berkurang.
Sebagai catatan, pada RDG pekan lalu, BI menyampaikan bahwa posisi SRBI sudah menyentuh Rp1.021,1 triliun, per 15 Juni 2026 dengan kepemilikan non-residen (asing) mencapai Rp238,1 triliun atau 23,3% dari total outstanding. Outstanding ini menjadi rekor tertinggi sejak instrumen SRBI diluncurkan.
(dsp/aji)



























