Iran bersikeras agar gencatan senjata di Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan damai sementara yang diselesaikan dengan AS pekan ini, dan akibat pecahnya kembali permusuhan, Teheran tidak mengirim delegasi ke perundingan tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang dijadwalkan mewakili Washington, juga tidak melakukan perjalanan ke Swiss.
Hingga kini belum ada indikasi mengenai tanggal baru dimulainya kembali pembicaraan tersebut.
Penundaan ini menjadi pukulan bagi Trump, yang pada Rabu menandatangani nota kesepahaman dengan Iran meskipun menghadapi kritik luas karena dianggap memberikan terlalu banyak konsesi berupa manfaat finansial dan pelonggaran sanksi.
Trump mengatakan kesepakatan itu akan mencegah krisis ekonomi global karena Selat Hormuz yang vital akan kembali dibuka untuk pengiriman minyak dan gas.
"Kami tidak bertemu karena putus asa. Iran yang putus asa. Mereka sudah selesai!" tulis Trump di Truth Social pada Jumat. "Kami akan menjalani 60 hari ini. Mereka tidak akan mendapat uang, bahkan tidak satu sen pun!"
Namun kemudian pada hari yang sama, Trump mengatakan kedua pihak masih memiliki waktu untuk mencapai kesepakatan.
"Jika tidak, kami akan melakukan hal-hal yang tidak akan membuat mereka senang, tetapi saya rasa tidak akan sampai ke situ," kata Trump di Pangkalan Udara Joint Base Andrews saat memperkenalkan jet baru hadiah dari Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One. "Saya pikir hasilnya akan sangat baik."
Belum jelas apakah perkembangan terbaru ini akan memengaruhi Selat Hormuz, tempat aktivitas pelayaran meningkat sejak Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan tersebut.
Lalu lintas melalui jalur perairan yang sangat penting bagi pasokan energi global itu tampak menurun pada Jumat pagi, sehari setelah lonjakan arus minyak menyusul janji kedua negara untuk mengakhiri blokade ganda.
Iran mengatakan pada Jumat bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz akan memerlukan izin dari Teheran, membuka potensi perdebatan sengit mengenai mekanisme pungutan di masa depan.
Kapal yang melintasi selat tersebut juga diwajibkan memiliki polis asuransi khusus yang saat ini gratis namun dapat dikenakan biaya di masa depan, menurut dokumen yang diterbitkan Otoritas Selat Teluk Persia Iran di situs webnya.
AS, Eropa, dan negara-negara Arab Teluk menolak gagasan Iran mengenakan biaya atas jalur transit tersebut, sementara Vance pada Kamis meremehkan kemungkinan itu.
"Kami percaya jalur perairan internasional harus bebas dari pungutan," kata Vance, sambil menambahkan bahwa negara-negara di kawasan itu "akan bersama-sama menyusun kerangka keamanan yang tepat untuk selat tersebut di masa depan."
Harga minyak naik tipis pada Jumat, dengan Brent menguat sekitar 0,9% menjadi US$80 per barel. Meski demikian, harga minyak masih turun sekitar 7,7% sepanjang pekan ini karena para pelaku pasar memperkirakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan meredakan krisis pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Pertempuran di Lebanon kali ini lebih mematikan dibanding biasanya. Militer Israel mengatakan empat tentaranya tewas, termasuk seorang komandan batalion.
Serangan Israel menewaskan 18 orang, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, sementara militer Israel menyatakan telah menyerang 80 lokasi Hezbollah.
Iran menilai AS memiliki "tanggung jawab langsung" atas situasi di Lebanon dan tindakan militer Israel, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah IRNA.
Ketegangan antara AS dan Israel terkait Lebanon juga semakin meningkat. Trump dilaporkan memarahi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon, menuduhnya hampir menggagalkan nota kesepahaman dengan Iran pekan ini dengan meningkatkan serangan di Lebanon.
Israel bersikeras akan mempertahankan pasukannya di luar perbatasan sampai yakin Hezbollah, yang ditetapkan AS sebagai organisasi teroris, tidak lagi menjadi ancaman.
Dalam wawancara dengan Axios yang direkam pada Kamis dan ditayangkan Jumat, Trump mengatakan ia memiliki hubungan baik dengan Netanyahu, tetapi harus "menjaganya tetap waras."
Trump juga mengatakan ia dapat mencegah Israel menyerang Lebanon karena "mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan."
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan mentoleransi serangan terhadap tentaranya maupun wilayahnya dan akan mengenakan "harga yang sangat mahal" kepada Hezbollah sebagai balasan.
"Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi komunitas di wilayah utara," tulis Netanyahu di platform X pada Jumat.
Sebanyak 67% warga Israel menilai kesepakatan AS-Iran buruk bagi negara mereka, menurut jajak pendapat yang disiarkan oleh Channel 12, stasiun televisi dengan rating tertinggi di Israel.
Hanya 9% yang menilai kesepakatan itu baik, sementara 24% belum menentukan sikap.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan eskalasi terbaru oleh Israel merusak upaya gencatan senjata.
Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan tetap siap memfasilitasi perundingan tersebut dan bahwa "persiapan yang relevan" di lokasi pertemuan di Burgenstock masih terus berlangsung.
Juru bicara Gedung Putih mengatakan delegasi AS siap berangkat pada kesempatan pertama yang tersedia.
Nota kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Rabu telah mendorong Washington mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz.
Kedua negara juga sepakat memperpanjang gencatan senjata selama putaran perundingan baru, yang ditargetkan selesai dalam 60 hari tetapi dapat diperpanjang.
Kedua pihak akan berupaya mencapai kesepakatan mengenai pembatasan pengolahan uranium oleh Iran, kemungkinan selama satu dekade atau lebih, serta penghancuran atau pengenceran stok uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
AS dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari dengan alasan perlu mencegah negara tersebut membangun senjata nuklir.
Teheran telah lama membantah memiliki niat tersebut, meskipun memperkaya uranium jauh di atas tingkat yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Perang tersebut menyebabkan harga energi melonjak dan mendorong inflasi global, sementara sekutu-sekutu AS seperti Uni Emirat Arab dan Qatar menjadi sasaran ribuan drone dan rudal Iran.
Banyak pakar nuklir menilai jangka waktu 60 hari tidak cukup untuk merumuskan kesepakatan permanen dengan Iran mengingat kompleksitas dan sifat teknis isu tersebut.
Kesepakatan nuklir tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia, termasuk AS, yang kerap dikritik Trump dan ditinggalkannya pada masa jabatan pertamanya, memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk diselesaikan.
Harga minyak mentah masih sekitar 30% lebih tinggi dibanding awal tahun karena diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih lama, untuk mengembalikan arus minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz ke kondisi normal.
Selain itu, AS dan banyak negara lain telah menguras cadangan minyak darurat dengan kecepatan rekor untuk menahan kenaikan harga selama perang. Cadangan tersebut harus diisi kembali, yang akan menambah permintaan global.
(bbn)





























