Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar US$146 miliar serta rasio utang pemerintah yang masih berada di bawah 40% terhadap produk domestik bruto memberikan ruang kebijakan yang kuat di tengah ketidakpastian global.

“Investor global mencari tiga hal, yaitu pertumbuhan, stabilitas, dan skala. Indonesia menawarkan ketiganya. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5%, stabilitas makroekonomi terjaga, dan pasar domestik berpenduduk sekitar 285 juta jiwa memberikan skala yang sulit ditandingi oleh banyak negara berkembang lainnya,” ujar Shan.

Ia menambahkan bahwa posisi Indonesia semakin strategis dalam rantai pasok global, terutama melalui hilirisasi industri dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Indonesia saat ini memiliki salah satu cadangan nikel terbesar di dunia dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Shan juga menilai ketertarikan investor asing terhadap Indonesia tetap tinggi. Sepanjang 2025, Indonesia berhasil menarik investasi asing langsung sekitar US$45 miliar, sementara kapitalisasi pasar saham domestik telah melampaui US$600 miliar.

Menurutnya, daya tarik Indonesia tidak lagi terbatas pada sektor komoditas, melainkan telah meluas ke sektor mineral kritis, pusat data, kecerdasan buatan, energi terbarukan, manufaktur bernilai tambah, logistik, hingga layanan keuangan.

Sejumlah institusi global juga tetap konstruktif terhadap prospek Indonesia. Shan menyebut berbagai lembaga internasional seperti McKinsey & Company, Goldman Sachs, J.P. Morgan, dan Asian Development Bank terus menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan potensi pertumbuhan jangka panjang paling menarik di dunia.

Menurut Shan, perhatian MSCI terhadap transparansi dan kualitas pasar justru dapat menjadi katalis positif bagi reformasi lanjutan.

“Sejarah menunjukkan bahwa pasar modal yang sukses dibangun melalui proses perbaikan berkelanjutan. Korea Selatan dan India memperkuat daya saing pasar mereka melalui modernisasi regulasi, peningkatan tata kelola, dan transparansi yang lebih baik. Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal tersebut,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tesis investasi Indonesia tetap utuh karena didukung oleh kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, demografi produktif, disiplin fiskal, sumber daya strategis, serta momentum reformasi yang berkelanjutan.

“Di tengah ekonomi global yang semakin terfragmentasi, negara yang memiliki kombinasi skala, stabilitas, demografi, sumber daya alam, dan momentum reformasi semakin langka. Indonesia tetap menjadi salah satu di antaranya,” ujar Shan.

(red)

No more pages