Tangis Anak SD Iringi Vaksin HPV Perdana bagi Laki-Laki
Andrean Kristianto
05 August 2026 19:02
Bloomberg Technoz, Jakarta - Pagi itu, suasana di salah satu ruang kelas SDN Palmerah 09 Pagi, Jakarta Barat, berbeda dari biasanya. Sejumlah murid kelas 5 tampak menunggu giliran dipanggil.
Tak sedikit yang akhirnya menangis ketika jarum suntik mulai didekatkan ke lengan mereka. Wajah-wajah tegang pun seketika berubah menjadi tangisan kecil. Namun, di tengah suasana itu, teman-teman mereka yang tergabung sebagai dokter cilik sigap menghampiri. Mereka membantu menenangkan, menggenggam tangan, bahkan ikut memegangi teman yang masih ketakutan agar proses vaksinasi dapat berjalan lancar bersama tenaga kesehatan.
Baca Juga
Momen tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) yang digelar Pemerintah Kota Jakarta Barat di SDN Palmerah 09 Pagi, Selasa (5/8). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini vaksin HPV untuk pertama kalinya diberikan kepada murid laki-laki kelas 5 berusia sekitar 11 tahun.
Langkah ini menjadi tonggak baru dalam upaya pemerintah memperluas perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus HPV. Selama ini, vaksin HPV lebih dikenal sebagai imunisasi bagi anak perempuan untuk mencegah kanker leher rahim. Padahal, virus yang sama juga dapat menyerang laki-laki dan menyebabkan berbagai penyakit serius.
Melalui vaksinasi ini, anak laki-laki diharapkan terlindungi dari risiko kanker penis, kanker anus, serta kutil kelamin yang disebabkan oleh HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.
Di balik tangisan yang sesaat terdengar di ruang vaksinasi, tersimpan tujuan yang jauh lebih besar. Pemerintah menargetkan generasi muda Indonesia tumbuh dengan perlindungan yang lebih baik terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan tiga target utama Indonesia dalam mencapai eliminasi kanker serviks. Pertama, 90 persen anak perempuan dan laki-laki mendapatkan imunisasi HPV sebelum berusia 15 tahun. Kedua, 75 persen perempuan berusia 30-69 tahun menjalani skrining menggunakan tes DNA HPV. Ketiga, 90 persen perempuan yang memiliki lesi prakanker maupun kanker serviks invasif memperoleh tata laksana yang sesuai.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa vaksin HPV aman digunakan dan tidak menyebabkan kemandulan.
Lebih dari sekadar pemberian vaksin, program pencegahan HPV merupakan strategi yang menyeluruh. Edukasi mengenai perilaku hidup sehat, pentingnya deteksi dini melalui skrining, diagnosis, hingga tata laksana penyakit menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya menekan angka kejadian kanker.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah menargetkan angka kejadian kanker leher rahim turun menjadi empat kasus per 100.000 penduduk per tahun pada 2030. Harapannya, perlindungan yang dimulai dari ruang kelas sederhana di sebuah sekolah dasar hari ini akan menjadi investasi kesehatan bagi generasi mendatang.
(dre/ain)



























