Meski begitu, pola pergerakan yield yang belum turun secara merata, mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari fase kehati-hatian.
Sebagian seri masih mencatat kenaikan dan bertahan di level 7%, seperti tenor 8 tahun naik 2,6 bps ke 7,01%, tenor 12 tahun naik 0,6 bps ke 7,54%, tenor 13 tahun naik 6,1 bps ke 7,48%, dan tenor 15 tahun naik 1,5 bps ke 7,44%.
Kenaikan yield pada tenor menengah panjang menggambarkan bahwa investor sepertinya masih meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang obligasi berjangka panjang.
Kondisi ini dapat dibaca sebagai sikap wait and see pelaku pasar yang menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, keputusan Federal Reserve, perkembangan inflasi domestik, apalagi setelah harga BBM non-subsidi dikerek naik, hingga keberlanjutan arus modal asing dalam beberapa bulan ke depan.
Aksi beli juga mewarnai pasar obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS, INDON, meski penurunan yield terjadi secara terbatas. INDON 2 tahun turun 0,3 bps ke 4,13%, INDON 0,4 bps ke 4,45%, tenor 5 tahun turun 1,1 bps ke 4,77%, tenor 10 tahun turun 0,1 bps ke 5,4%. Namun, tenor 7 tahun tercatat stagnan di 5,03%, sementara tenor 30 tahun naik 0,7 bps ke 5,69%.
Sementara, surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun juga mencatat penurunan yield, 1 bps ke 4,43% dan membuat spread yield dengan obligasi pemerintah RI masih berada pada level yang relatif wajar, yakni 97 bps.
(dsp/aji)



























