Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, BI telah mengejutkan pasar dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada 9 Juni 2026. Kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, menjaga inflasi, serta meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.

Ibrahim menilai, kenaikan suku bunga lanjutan perlu dihindari karena dapat meningkatkan biaya pendanaan pemerintah. Saat ini, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sudah berada di kisaran 7,4%.

"Kalau suku bunga BI dinaikkan lagi, imbal hasil obligasi bisa mendekati 8%. Beban utang pemerintah juga akan semakin tinggi," ujarnya.

Dari sisi nilai tukar, Ibrahim memperkirakan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga akan memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal saat ini mulai membaik meski pasar masih dibayangi risiko perang dagang global, khususnya kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump.

"Kalau BI mempertahankan suku bunga, rupiah berpotensi menguat sekitar 50 poin. Memang masih ada tekanan dari perang dagang, tetapi pelemahannya diperkirakan terbatas," katanya.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup terjaga. Di tengah kondisi kelebihan pasokan minyak global, harga minyak berpeluang bergerak mendekati asumsi yang ditetapkan dalam APBN sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap fiskal pemerintah dan menopang stabilitas rupiah.

(lav)

No more pages