Langkah pemerintah ini, menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, berpotensi membawa rupiah melanjutkan penguatan menuju kisaran Rp17.500/US$ pada pekan depan.
"Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul.
Jika benar-benar terjadi, kepercayaan investor tersebut akan tercermin pada sesi perdagangan esok (17/6/2026). Sebab, hari ini pasar keuangan domestik libur memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Namun, optimisme tersebut tetap perlu ditempatkan pada konteks yang lebih luas. Penguatan rupiah yang diproyeksikan menuju level Rp17.500/US$, tidak semata-mata ditentukan oleh faktor domestik, melainkan juga bergantung pada arah kebijakan moneter global dan keberlanjutan sentimen risiko internasional.
Sikap The Fed, khususnya terkait prospek suku bunga hingga akhir tahun, akan menjadi faktor penentu bagi pergerakan dolar AS dan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mata Uang Asia
Bagi kawasan, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama nyaris tidak berubah berada di level 99,66, membuat pergerakan mata uang Asia cenderung beragam. Yen Jepang memimpin penguatan bersama won Korea Selatan, dolar Singapura, baht Thailand, dan yuan offshore. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah terbatas 0,03%.
Pergerakan mata uang kawasan yang relatif tenang mengindikasikan bahwa pelaku pasar sepertinya mulai menggeser fokus dari risiko geopolitik menuju kebijakan moneter. Kesepakatan antara AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz cukup berhasil meredakan ketegangan dan menurunkan premi risiko energi.
Akan tetapi, investor tampaknya belum sepenuhnya siap mengambil posisi agresif sebelum mendapat kejelasan suku bunga dari bank sentral di kawasan, seperti Bank Indonesia, Bank of Japan, Reserve Bank of Australia, dan terutama Federal Reserve.
Para ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5–3,75% dalam pertemuan pertama di bawah Gubernur Kevin Warsh. Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 0,25 poin persentase sebelum Desember kurang dari 80%.
Di sisi lain, ekonom juga memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps menjadi 5,75%, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar pada Kamis (18/6/2026).
Sementara, Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% karena data inflasi diperkirakan naik menjadi 1,6% secara tahunan pada Mei, dari 1,4% pada April.
Di tengah kondisi ini, arah pasar pada pekan ini kemungkinan tak lagi ditentukan oleh perkembangan geopolitik semata, tetapi juga seberapa jauh bank-bank sentral bersedia mempertahankan sikap hawkish untuk menjaga stabilitas mata uangnya.
(dsp/aji)






























