Logo Bloomberg Technoz

Penguatan mata uang regional juga ditopang oleh langkah sejumlah bank sentral kawasan yang diperkirakan akan mengambil langkah kebijakan kuat demi mempertahankan nilai tukar mata uang mereka. 

Misalnya Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% karena data inflasi diperkirakan naik menjadi 1,6% secara tahunan pada Mei, dari 1,4% pada April. Begitu juga bank sentral Filipina, diperkirakan akan menaikkan suku bunga pinjaman overnight sebesar 50 basis poin menjadi 5%.

Begitu juga dengan penguatan rupiah, tidak terlepas dari respons kebijakan Bank Indonesia yang semakin agresif. Setelah menaikkan suku bunga secara akumultif 75 bps dalam waktu sekitar satu bulan, pasar mulai menilai komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar semakin kredibel. 

Sementara, Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). Perkiraan ini lebih agresif daripada hasil konsensus Bloomberg yang memperkirakan kenaikan 25 bps. 

Langkah agresif tersebut telah dapat membantu BI meredam tekanan spekulatif terhadap rupiah yang sebelumnya sempat terpuruk yang hampir menembus level Rp18.200/US$, tepatnya Rp18.190/US$ dalam sesi perdagangan intraday pekan lalu.

Dengan kenaikan suku bunga acuan, diharapkan penguatan rupiah dapat bertahan lebih lama dan berkelanjutan. 

Meski begitu, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah ujian penting dalam jangka pendek. Pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati arah kebijakan stabilisasi nilai tukar dan langkah lanjutan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik. 

(dsp/aji)

No more pages