Komando Sentral AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya mulai meluncurkan "serangan membela diri tambahan" sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai "agresi Iran yang terus berlanjut dan tidak beralasan." Sebagai balasan atas serangan udara Amerika pada hari Selasa terkait jatuhnya helikopter, Iran sempat membalas dengan menggempur sejumlah fasilitas militer AS yang berada di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Pada Rabu malam waktu setempat, Trump mengunggah sebuah pernyataan di media sosial yang mengeklaim bahwa militer AS telah mengawal jalur pelayaran bagi "lebih dari 200 kapal komersial" yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diklaim berhasil mengalirkan "lebih dari 100 juta barel minyak" ke pasar global. Lebih lanjut, Trump secara sepihak mengeklaim bahwa AS kini memegang kendali penuh atas selat strategis tersebut, "bukan Iran."
Meskipun arus pengiriman minyak yang keluar dari kawasan Teluk Persia dilaporkan mulai mengalir sedikit demi sedikit di bawah lindungan kegelapan malam, dan pasar fisik mulai menunjukkan tanda-tanda pasokan yang cukup, gangguan pada arus logistik di Timur Tengah ini telanjur mendongkrak harga energi. Dampaknya terlihat dari kenaikan harga bensin di AS, yang memicu kecemasan global terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Secara terpisah, data resmi pemerintah AS yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah domestik AS menyusut hingga 7,2 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini menandai penyusutan cadangan minyak selama tujuh pekan berturut-turut. Selain itu, pasokan minyak di fasilitas penampungan Cushing, Oklahoma, juga dilaporkan mengalami sedikit penurunan.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Juli naik 2,4% menjadi US$92,20 per barel pada pukul 06.30 pagi waktu Singapura.
- Brent untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 1,8% menjadi US$93,10 per barel pada Rabu.
(bbn)






























