Logo Bloomberg Technoz

Disparitas Jauh

Terpisah, ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi berpandangan terdapat potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite gegara kenaikan harga pada Juni ini.

Alasannya, disparitas harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi kian jauh hingga mencapai Rp6.250/liter.

Pengendara mengisi bbm Pertamax di SPBU Pertamina, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

“Jika ada 10%—15% saja pengguna Pertamax pindah ke Pertalite, maka beban subsidi dapat naik signifikan. Ironisnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi tekanan fiskal, justru bisa menciptakan tekanan baru, apalagi kalau terjadi migrasi besar-besaran,” kata Badiul ketika dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Hari ini, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengumumkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.

“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,”  kata Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).

Dia juga mengungkapkan harga BBM bersubsidi jenis bensin dan solar atau Pertalite serta Solar, tetap ditahan harganya masing-masing Rp10.000/liter dan Rp6.800/liter.

Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk BBM, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.

Di sisi lain, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menetapkan kuota subsidi JBKP Pertalite untuk 2026 sebesar 29,26 juta kl.

Berdasarkan data per 17 Mei 2026, penyaluran JBKP Pertalite pada Januari–17 Mei 2026 mencapai 10,45 juta kl atau lebih kecil 525.646 kl dari kuota per 17 Mei sebesar 10,98 juta kl.

Jika dibandingkan dengan kuota sepanjang 2026, realisasi penyaluran Pertalite mencapai 35,74% dari kuota sebesar 29,26 juta kl.

Stok BBM bersubsidi jenis Pertalite per 18 Mei 2026 mencapai 16 hari, sementara standar minimum yang ditetapkan pemerintah tercatat sebesar 18,2 hari.

BPH Migas mencatat stok Pertalite per 18 Mei 2026 mencapai 1,37 juta kl, dengan rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 85.560 kl per hari.

Untuk Pertamax (RON 92), stok per 18 Mei 2026 tercatat 561.022 kl dengan rencana penyaluran harian sebesar 20.153 kl per hari, sehingga ketahanan pasokan mencapai 27,8 hari atau di atas batasan minimum 19,9 hari.

Daftar Harga BBM Pertamina di Pulau Jawa:

  • Pertamax: Rp16.250/liter
  • Pertamax Turbo: Rp20.750/liter
  • Pertamax Green 95: Rp17.000/liter
  • Dexlite: Rp23.000/liter
  • Pertamina Dex: Rp24.800/liter
  • Pertalite: Rp10.000/liter
  • Solar: Rp6.800/liter

(azr/wdh)

No more pages