Sementara itu, obligasi INDON tenor 2 tahun tercatat turun tipis 0,4 bps menjadi 4,24%, dan tenor 5 tahun turun 1,1 bps ke 4,91%. Sebaliknya tenor 3 tahun tercatat naik 0,2 bps menjadi 4,53%.
Penguatan yang terjadi di pasar obligasi menunjukkan keputusan BI menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat regular sepertinya berhasil memberikan sentimen positif dalam jangka pendek.
Investor melihat langkah tersebut sebagai sinyal bahwa bank sentral mampu bertindak agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah pelebaran tekanan di pasar keuangan domestik. Penurunan yield cukup tajam pada tenor acuan jadi indikator lantaran tenor ini jadi tolok ukur persepsi risiko Indonesia.
Meski begitu, nampaknya optimisme pasar kali ini masih akan diuji lebih lanjut. Penurunan yield yang tajam masih terkonsentrasi pada beberapa tenor. Bahkan tenor pendek seperti 1 tahun hanya mencatat penurunan terbatas. 0,7 bps, dan tenor 2 tahun malah tercatat naik 1,8 bps menjadi 7,3%.
Pergerakan yang belum seragam ini mengindikasikan bahwa pasar masih melakukan penyesuaian harga terhadap berbagai risiko yang belum sepenuhnya hilang.
Salah satu faktor yang masih menjadi sumber ketidakpastian adalah eskalasi konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Baru-baru ini, pasukan AS dikabarkan melakukan penyerangan yang mereka sebut sebagai 'bela diri' terhadap Iran, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer AS di lepas pantai Oman.
Ketegangan geopolitik tersebut berpotensi mendorong permintaan terhadap aset-aset safe haven, seperti dolar AS. Hal ini telah tercermin pada pergerakan indeks dolar AS yang masih bertengger di level 99,91.
Dalam jangka pendek, fokus investor akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia berikutnya yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang. Pasar akan mencermati apakah kenaikan suku bunga pekan ini sebesar 25 bps merupakan langkah awal dari siklus pengetatan yang lebih agresif atau hanya respons sementara untuk meredam tekanan kurs.
Menurut, Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, jika volatilitas rupiah berhasil ditekan di rentang Rp17.500-Rp17.900/US$ hingga RDG bulan ini, maka BI berpeluang untuk tetap mempertahankan BI Rate di 5,5%.
(dsp/aji)





























