Logo Bloomberg Technoz

Keduanya menilai, upaya Kementerian Keuangan dan BI yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus dilakukan hingga rupiah dapat kembali terapresiasi ke rentang Rp17.500-Rp17.900/US$. Jika upaya ini berhasil, maka Mega Capital Sekuritas memperkirakan BI tidak jadi menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan. 

Sementara dari sisi global, indeks dolar AS belum sepenuhnya reda dan kembali naik menjadi 100,01. Begitu juga dengan harga minyak mentah meski sudah lebih jinak, namun masih bertahan tinggi di posisi US$92,3 per barel. 

Kondisi ini direspons oleh Indonesia dengan menaikkan harga bahan bakar jenis Pertamax sebesar 32,1% atau Rp3.950 per liter menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Di tengah harga minyak yang masih bertahan tinggi di atas angka asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kenaikan harga bahan bakar ini dapat menekan potensi defisit fiskal di akhir tahun. 

Dari pasar kawasan, sebagian mata uang bergerak menguat. Rupiah memimpin penguatan, disusul won Korea Selatan 0,21%, dan dolar Hong Kong 0,01%.

Sementara, sebagian mata uang kawasan lainnya bergerak melemah. Di antaranya, baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan China, dolar Taiwan, dan peso Filipina.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih diliputi sentimen ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran. Baru-baru ini, pasukan AS dikabarkan melakukan penyerangan yang mereka sebut sebagai 'bela diri' terhadap Iran, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer AS di lepas pantai Oman. 

(dsp/aji)

No more pages