Nico menambahkan PLTS Mentari Nusantara I merupakan tahap awal (etape pertama) dari program 100 GW PLTS yang dicanangkan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, menurutnya PLN tidak bisa bekerja sendiri sehingga dalam proyek ini pihaknya sudah merancang return on investment (ROI) yang lebih menarik dan kompetitif bagi investor.
“Sehingga bapak ibu selaku investor, selaku developer IPP [independent power producer], kami undang untuk bisa berkolaborasi bersama untuk bisa mengimplementasikan target 100 gigawat tersebut,” ungkap dia.
Sebelumnya, PLN dalam RUPTL 2025—2034 telah menargetkan penambahan kapasitas PLTS mencapai 17,1 GW.
Adapun, dalam pembangkit EBT di RUPTL posisi PLTS sebagai kontributor nomor satu dalam rencana ekspansi energi bersih nasional, diikuti oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 11,7 GW.
Namun, karena sifat energi surya yang intermiten (tergantung cuaca/waktu), penambahan kapasitas PLTS skala besar ini akan dipadukan secara masif dengan pembangunan sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW yang terdiri dari PLTA pumped storage 6 GW dan battery energy storage system (BESS) 4,3 GW.
Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) ditarget sebesar 7,2 GW, pembangkit listrik panas bumi (PLTP) sebesar 5,2 GW, pembangkit listrik tenaga air (PLTA sebesar 11,7 GW, dan pembangkit listrik tenaga bioenergi (PLTBio) sebesar 0,9 GW.
(smr/wdh)































