"Tidak mungkin dikerjakan PLN dan hanya mungkin melalui kolaborasi. Investor dan developer kami undang untuk bisa berkolaborasi bersama guna mengimplementasikan target 100 gigawatt tersebut," tambahnya.
Sebelumnya, sumbangan IPP terhadap kapasitas pembangkit PLN juga telah diungkap oleh Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary.
Dia menyebut bahwa 70%—75% pembangkit listrik di Indonesia sepanjang 2025 masih dikuasai oleh pihak swasta melalui IPP.
“Angka sekarang itu sekitar 70%—75% [pembangkit milik IPP]. Seluruh proyeknya dan apalagi adalah pembangkitan, itu adalah milik IPP,” ungkap Rizal dalam agenda Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta, Rabu (20/05/2026).
Rizal menjelaskan besaran IPP sebagai pemilik pembangkit justu menguntungkan bagi PLN karena dapat membantu sektor investasi dan keuangan PLN.
Dalam RUPTL, PLN membutuhkan setidaknya investasi sebesar Rp3.000 triliun, dan dengan adanya IPP beban ini dapat terbantu.
“Saya mau sampaikan, PLN tidak banyak duitnya. Sesuai dengan yang tertera di RUPTL, kita butuh investasi sebesar Rp2.600 triliun. Belum transmisi gardu induk sebesar Rp300 triliun. Dan untuk distribusinya Rp100 triliun. Dan IPP itu artinya peluang bagi pengusaha-pengusaha,” tambah dia.
Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menyebutkan peluang investasi proyek dalam RUPTL 2024—2035 dapat mencapai hampir Rp3.000 triliun atau tepatnya Rp2.967,4 triliun.
Dia menerangkan investasi tersebut akan digunakan untuk pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, distribusi, dan program listrik desa.
Diketahui, sekitar 73% dari total kapasitas pembangkit direncanakan berasal dari skema kemitraan dengan pihak swasta atau IPP, sementara sisanya akan dikelola oleh PLN.
“Lima tahun pertama total investasinya adalah Rp1.173,9 triliun, 5 tahun kedua sebesar Rp1.793,48 triliun,” sebut Bahlil dalam konferensi pers RUPTL 2025—2034 di Jakarta, Senin (26/5/2025).
Secara terperinci, Bahlil menyampaikan peluang investasi untuk pembangunan pembangkit listrik sebesar Rp2.133,7 triliun, investasi untuk pembangunan transmisi sebesar Rp565,3 triliun, dan untuk smart grid dan lain-lain sebesar Rp268,4 triliun.
(smr/wdh)





























