Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga dengan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus terkerek naik. SRBI menjadi instrumen andalan BI dalam menarik dana dan menopang nilai tukar. 

Kenaikan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk semakin meningkatkan imbal hasil bagi masuknya investasi portofolio asing. 

Yield SRBI tenor 12 bulan terkerek naik jadi 7,25%, tertinggi sejak Januari 2025. (Bloomberg)

Imbal hasil tenor 3 bulan naik dari 6,47% menjadi 6,62%, tenor 6 bulan naik dari 6,69% menjadi 6,87%, sementara tenor 12 bulan melonjak dari 6,94% menjadi 7,24%. Meski begitu, kenaikan imbal hasil tersebut tetap disokong oleh minat investor yang cukup tinggi dengan adanya lonjakan volume transaksi. Misalnya, untuk SRBI tenor 12 bulan volume perdagangan melesat dari Rp405 miliar menjadi hampir Rp7 triliun dalam sehari. 

"Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain," sebut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Selasa (9/6/2026). 

Pergerakan Rupiah

Setelah BI menaikkan bunga acuan, rupiah sempat menguat hingga Rp18.046/US$ pada 13:17 WIB. Namun, pergerakan rupiah kembali volatil ke posisi Rp18.102/US$ pada 13:51 WIB. 

Pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (9/6/2026), usai BI Rate naik ke 5,5%. (Bloomberg)

Para ekonom dan analis memperkirakan ketidakpastian global dan domestik masih akan berlangsung. Di tengah kondisi tersebut BI kembali berpeluang untuk menaikkan BI Rate. 

Faisal Rachman, Ekonom Bank Permata, memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada kuartal III-2026. "Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas markoekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, juga memproyeksikan BI akan kembali mengerek suku bunga acuan, bahkan dengan proyeksi yang lebih agresif. "Kami memperkirakan Bank Indonesia akan kembali mengumumkan kenaikan suku bunga pada 18 Juni mendatang sebesar 50 basis poin (bps), sehingga BI Rate naik menjadi 6%," sebut Lionel. 

Faisal memperkirakan, rupiah masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek dan menengah. "Dengan nilai tukar berpotensi melemah ke kisaran Rp18.300-18.500/US$ pada titik terendahnya," sebut Faisal.

Sebelumnya, seperti dikutip Bloomberg News, Gary Tan dari Allspring Global Investment dan Yuxuan Tang dari JPMorgan Private Bank memperkirakan peluang rupiah menuju Rp19.000/US$ pada Desember mencapai 45%. Dalam setahun ke depan, probabilitas rupiah menuju Rp20.000/US$ adalah 27%.

Namun, pandangan berbeda datang dari Kepala Strategi Makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corporation Jeff Ng. Seperti dikutip Bloomberg News, dia menilai rupiah berpotensi menemukan titik penopang (support) di kisaran Rp18.200/US$, seiring kenaikan suku bunga di luar jadwal regular (offcycle).  

Begitu juga dengan Faisal yang memperkirakan nilai tukar rupiah pada akhir 2026 relatif lebih terjaga di kisaran Rp17.900-Rp18.200/US$, meski volatilitas jangka pendek masih tinggi. 

Tantangan Rupiah

Meski BI hari ini berupaya meredam volatilitas rupiah dengan mengguyur kenaikan suku bunga acuan, menurut Faisal kerentanan domestik masih cukup tinggi. Terutama terkait potensi dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi, kondisi fiskal, dan neraca eksternal Indonesia. 

Sementara, sektor eksternal berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar akibat meningkatnya biaya impor, khususnya energi dan bahan baku impor lainnya. Di sisi lain, dia menilai kinerja ekspor kemungkinan akan tetap terbatas karena perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian yang berkepanjangan. 

"Akibatnya, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar dan menambah tekanan terhadap rupiah," sebut Faisal. 

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan menyusutnya surplus neraca dagang Indonesia, sebesar US$0,09 miliar pada April, menyempit dari posisi US$0,2 miliar pada periode sama tahun lalu, dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar US$1,50 miliar. 

Capaian ini menjadi surplus perdagangan terkecil sejak Indonesia mengalami defisit pada April 2020, dan menandakan tekanan terhadap sektor eksternal semakin meningkat.

Padahal, kinerja ekspor menunjukkan perbaikan signifikan dengan pertumbuhan 21,98% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,1% pada Maret, ditopang lonjakan ekspor nonmigas sebesar 23,36%.

Namun, peningkatan tersebut tergerus oleh impor yang tumbuh lebih tinggi, yakni 22,49%, terutama dari impor migas yang melonjak 85,52% serta impor nonmigas yang naik 14,11%.

Lonjakan impor ini mencerminkan tingginya kebutuhan energi sekaligus upaya pelaku usaha mengamankan pasokan di tengah pelemahan rupiah, sehingga semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketahanan eksternal Indonesia.

Meski begitu, Indonesia diperkirakan masih akan mencatat surplus perdagangan sepanjang 2026, meski nilainya akan jauh lebih kecil daripada tahun-tahun sebelumnya. 

(dsp/aji)

No more pages