Nanik mengakui saat ini sebagian besar dapur MBG masih terkonsentrasi di kawasan aglomerasi atau perkotaan, sementara wilayah 3T justru belum terjangkau secara optimal. Karena itu, Presiden Prabowo Subianto meminta agar perluasan program lebih difokuskan ke daerah-daerah tersebut.
"Jujur, sekarang yang menumpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi, Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu," ujarnya.
Untuk mendukung efisiensi program tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), BGN juga membuka peluang pendanaan dari berbagai sumber. Mulai dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN, hibah luar negeri, hingga dukungan yayasan dan perusahaan yang beroperasi di daerah terpencil.
Menurut Nanik, pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah memperluas cakupan layanan MBG tanpa harus selalu membangun dapur baru. Terlebih, banyak wilayah 3T memiliki jumlah penerima manfaat yang relatif sedikit sehingga pembangunan dapur baru dinilai tidak efisien.
"Jadi yang sudah ada existing, entah dapurnya siapa, mungkin ada dapur umum atau apa, intinya tidak harus membangun dapur baru," kata Nanik.
Ia menambahkan bahwa kantin sekolah dan fasilitas dapur yang telah tersedia akan menjadi salah satu opsi utama untuk mendukung pelaksanaan MBG di daerah-daerah terpencil.
(dec)




























