Dia juga mengungkapkan bakal terdapat regulasi baru untuk menunjang eksplorasi dan eksploitasi minyak serpih di Blok Rokan tersebut, aturan tersebut ditargetkan rampung akhir bulan ini.
“SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini, sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu,” kata Yuliot kepada awak media.
“Untuk mtranya ini ada berapa, tapi ini kan mereka meminta ada kepastian terlebih dulu. Jadi nanti berdasarkan kajian dari SKK Migas, siapapun penyedia teknologinya, kerjasamanya, itu tidak ada masalah, tetapi bagaimana kita merampungkan dari hasil evaluasi untuk unconventional ini bisa diimplementasikan dalam waktu,” ungkap dia.
Sebelumnya, PHE telah menyalurkan anggaran US$73,66 juta untuk proyek eksplorasi lanjutan sumur MNK di Blok Rokan.
PHE mencatat biaya eksplorasi minyak serpih atau shale oil di Blok Rokan itu ke dalam akun aset dalam penyelesaian pada laporan keuangan perseroan per 30 September 2025.
Belakangan, PHE lewat PHR mengidentifikasi sumber daya (P50) 724 juta barel setara minyak (MMBOE) pada struktur North Aman, bagian dari inisiasi pengembangan sumur MNK Gulamo dan Kelok di Blok Rokan.
Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra Eviyanti Rofraida mengatakan perseroannya saat ini tengah memasuki tahap pembuktian konsep atau appraisal atas temuan sumber daya pada struktur North Aman tersebut.
“Saat ini kita sedang dalam tahap penyiapan kegiatan appraisal untuk mengonfirmasi besaran sumber daya yang sudah ditemukan,” kata Evi kepada Bloomberg Technoz, medio November 2025.
Adapun, pembuktian konsep pengembangan shale oil Blok Rokan itu bakal melibatkan pengeboran sumur appraisal pada 2026-2027 dan sumur demonstration sepanjang 2027-2028.
Pengeboran sumur eksplorasi lanjutan ini akan menggunakan teknologi pengeboran Long Horizontal dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing.
Selain menentukan batas reservoir, pengeboran appraisal bakal menguji sumber daya yang sudah dipetakan sebelumnya.
Sementara itu, sumur demonstration akan menguji adopsi penerapan pengembangan MNK pada skala yang lebih luas. Biasanya, pengeboran sumur ini dilakukan sebagai tahap akhir sebelum pengembangan penuh suatu lapangan.
“Kami saat ini tahap appraisal dan demonstration dua sampai tiga tahun yang menjadi dasar penyusunan plan of development (PoD),” kata Evi.
PHR menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS) EOG Resources untuk melakukan studi evaluasi potensi shale oil di Sumur Gulamo dan Sumur Kelok.
EOG Resources dikenal luas sebagai pionir pengembangan shale oil di sejumlah aset tua di Amerika Serikat. Rekanan PHR itu mengelola portofolio shale oil di cekungan Eagle Ford, Bakken, Rocky Mountain, Permian, Gulf Coast, Anadarko dan Barnett Shale.
Belakangan, EOG Resources ikut membantu Abu Dhabi National Oil company (Adnoc) melakukan eksplorasi MNK di kawasan Al Dhafra, Abu Dhabi. Eksplorasi itu dianggap menjadi pengembangan MNK paling mutakhir di Timur Tengah saat ini.
Adapun, minyak yang terperangkap pada batuan induk itu sulit lolos lantaran formasi batuan yang terbilang rapat. Dengan demikian, pendekatan eksplorasi shale oil memerlukan teknologi Long Horizontal dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing.
Teknologi rekahan hidrolik yang dikembangkan EOG Resources itu diharapkan dapat membuka jalur aliran minyak yang terperangkap pada formasi batuan serpih.
Menurut kajian Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat (2013), potensi inplace MNK pada Central Sumatra Basin, termasuk di dalamnya Blok Rokan, mencapai sekitar 2,8 miliar barel minyak dan 3,3 triliun kaki kubik gas.
(azr/ros)





























