Namun, perbedaan regulasi harga di dalam dan luar China dinilai akan sedikit menekan margin ekspor dari Indonesia. Sebaliknya, jika Indonesia mampu menembus negara-negara yang tidak terbebani oleh masalah pasokan energi, nilai jual aluminium lokal berpeluang terkerek naik.
Sementara itu, pasar Jepang atau Eropa dinilai cenderung sulit ditembus karena mereka membutuhkan pasokan aluminium dengan spesifikasi sumber energi rendah (low-carbon/green energy).
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kesiapan industri seiring dengan berkembangnya industri manufaktur global, seperti sektor otomotif, khususnya penggunaan aluminium dalam electric vehicle (EV).
"Seperti yang kita pahami, ketika sebuah mobil sedang dibangun, akan selalu ada kandungan aluminium di dalam mobil tersebut," pungkasnya.
Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) sepanjang tahun 2025, aluminium menjadi salah satu komoditas nonmigas dengan pertumbuhan ekspor paling signifikan di Indonesia.
Pada periode Januari–Oktober 2025, ekspor komoditas aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencatatkan lonjakan pertumbuhan hingga 68,45% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Lima besar negara importir aluminium dari Indonesia sepanjang 2025 adalah China, India, Amerika Serikat, dan negara ASEAN, di antaranya Malaysia dan Vietnam.
(smr/ros)






























