Logo Bloomberg Technoz

Selain ketidakstabilan geopolitik, pelemahan mata uang kawasan juga didorong oleh stance The Fed yang kembali mengisyaratkan langkah pengetatan, lantaran inflasi global yang kian mengkhawatirkan. 

"Saya makin khawatir bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada akhir tahun ini untuk sepenuhnya memulihkan stabilitas harga dan menjaga keseimbangan mandat ganda The Fed," kata Lorie Logan, Gubernur The Fed, Bank of Dallas. 

Dia mengatakan para pejabat bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk mengembalikan inflasi ke target 2%. 

Pergerakan nilai tukar di kawasan Asia, Jumat (5/6/2026)

Namun, bagi Indonesia beban ganda datang dari sentimen domestik yang memburuk. Defisit ganda yang datang dari fiskal dan neraca transaksi berjalan. Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mencatat defisit US$9,15 miliar, lebih dalam dari defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.

Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar. 

Selain itu, ketidakpastian dan inkonsistensi kebijakan juga masih jadi perhatian investor dengan tingginya premi risiko yang dibebankan pada aset keuangan RI. Di tengah kondisi ini,  para pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 45% bahwa rupiah akan mencapai Rp19.000/US$ pada Desember mendatang, dan probabilitas 27% untuk melemah hingga Rp20.000/US$ dalam satu tahun ke depan. 

"Faktor utama di balik posisi short terhadap Indonesia adalah pandangan negatif terhadap rupiah, di mana investor masih khawatir mengenai ketidakseimbangan makroekonomi dan kredibilitas kebijakan, terutama dari sisi fiskal," kata Gary Tan, Manajer Portofolio di Allspring Global Investment, yang mengelola aset sekitar US$624 miliar, dikutip dari Bloomberg News. 

Kemarin, tekanan rupiah di pasar spot juga meluas ke pasar obligasi. Aksi jual terjadi pada hampir semua tenor. Tenor pendek mengalami kenaikan imbal hasil (yield) paling tajam. Yield tenor 1 tahun naik 4,6 basis poin (bps) menjadi 7,13%, tenor 2 tahun melonjak 8,7 bps ke 6,91%, sementara tenor 3 tahun naik 6,9 bps menjadi 6,83%. 

Sementara itu, pada tenor menengah dan panjang, kenaikannya relatif terbatas, berkisar 0,8 bps hingga 5 bps. Yield tenor acuan 10 tahun pun ikut naik 4,3 bps ke 6,74%. 

Di sisi lain, inversi yield juga masih terjadi di mana yield tenor 1 tahun jauh lebih tinggi daripada tenor 10 tahun yang hanya 6,74%. Bahkan tenor 2 tahun sebesar 6,91%, yield tenor 13 tahun 6,92%, dan tenor 18 tahun sebesar 6,93%, hingga 40 tahun 6,93% dalam kondisi struktur kurva yang tak lagi menanjak secara normal. 

Dalam kondisi normal, situasinya seharusnya berkebalikan. Investor biasanya meminta kompensasi lebih besar untuk mengunci dana dalam jangka waktu yang lebih lama karena risiko yang dihadapi juga lebih besar.

Adapun, Kementerian Keuangan akan merilis data kinerja APBN, yang kemungkinan akan kembali menggerakkan rupiah. Di tengah berbagai tekanan eksternal dan sentimen domestik yang terus memburuk, Mega Capital Sekuritas memperkirakan rupiah berpotensi kembali terdepresiasi di rentang Rp18.000/US$ hingga Rp18.100/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support pada level Rp18.050/US$, support selanjutnya bisa menuju Rp18.100/US$ usai break trendline sebelumnya.

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 5 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp18.200/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam time frame daily, pada tren jangka pendek (short-term).

Sebaliknya nilai rupiah memiliki level resistance terdekat pada level Rp17.900/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya pada level Rp17.800/US$ juga sebagai resistance potensial.

(riset/naw)

No more pages