“Penggerak utama yield SBN 10 tahun dipetakan berasal dari UST 10 tahun, BI Rate, USD/IDR, CDS [Credit Default Swap], faktor fiskal dan suplai SBN, serta arus investor asing; jadi ketika rupiah, CDS, dan fiskal memburuk bersamaan, tekanan ke pasar SUN menjadi sangat wajar,” kata Josua.
Peningkatan CDS Jadi Alarm Kredibilitas
Sementara Josua menyebut bahwa CDS yang memburuk juga harus dipandang sebagai alarm kredibilitas, bukan sekadar indikator pasar keuangan. Ia berpandangan jika CDS naik berarti investor meminta biaya perlindungan libel mahal terhadap risiko Indonesia.
“Penyebabnya bukan hanya rupiah melemah, tetapi juga kekhawatiran terhadap fiskal, risiko penurunan peringkat utang, penjualan saham, ketidakpastian kebijakan, dan persepsi bahwa respons kebijakan belum cukup menyentuh akar masalah,” kata Josua
Ia mencontohkan, Fitch sebelumnya sudah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan, potensi pelemahan konsistensi bauran kebijakan, penerimaan negara yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan risiko terhadap bantalan eksternal.
Selain itu, Moody’s juga mengubah outlook menjadi negatif karena menurunnya prediktabilitas kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, CDS yang memburuk mencerminkan investor sedang menghitung ulang risiko Indonesia secara menyeluruh.
Sebagai informasi, Per 3 Juni 2026, CDS Indonesia mencapai 88,8 basis poin. Meski belum digolongkan sebagai level krisis, secara historis pada kuartal II-2026 CDS RI sempat menyentuh 104,48 basis poin yang mengindikasikan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset dan kondisi fiskal domestik.
(ell)





























