Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah analis menilai anjloknya harga Bitcoin menunjukkan bahwa investor tengah menjauhi sektor ini dan menggeser dana kelolaannya ke instrumen saham terkait kecerdasan buatan (AI) karena menawarkan kalkulasi risiko dan potensial gain “lebih menarik dibandingkan aset digital,” kata Carney Mak, mitra di FXHB Asset Management, dilaporkan Bloomberg News.

Fakta ini semakin menegaskan bahwa terdapat perbedaan yang semakin besar antara mata uang kripto asli dan saham teknologi, dimana sentimen negatif aset digital makin menjadi dengan hadirnya kabar perjualan 'tabungan' 32 BTC senilai US$2,5 juta oleh Michael Saylor dari Strategy.

Ke depan koreksi lebih dalam diprediksi akan terus terjadi pasca kegagalan pasar mempertahankan harga di awal Mei dimana telah terjadi koreksi sebesar 15% dari posisi US$82.850. Tekanan jual bakal menggerakkan harga antara US$42.000 - US$50.000, menurut analis kripto Crypto Lens, untuk kemudian mendapatkan momentum berbalik arah atau bullish.

Koreksi harga terdalam Bitcoin terjadi pasca mencapai ATH bulan Oktober 2025. dok: TradingView/Newsbtc

Crypto Lens menarik kesimpulan adanya perangkap bullish yang tengah dihadapi Bitcoin pasca ATH di kisaran US$126.199, dimana BTC gagal mempertahankan zona distribusi atas dekat area rekor tertinggi antara November 2025 dan Januari 2026, hingga kemudian anjlok satu bulan setelahnya. Crypto Lens menyebutnya sebagai “Bull Trap #1,”

Jebakan kedua kemudian hadir bulan lalu namun “Bull Trap #2” disinyalir akan segera mereda dimana  pergerakan berikutnya mungkin akan turun ke zona akumulasi yang lebih rendah sebelum pasar dapat mulai membangun menuju siklus besar berikutnya.

(wep)

No more pages