Logo Bloomberg Technoz

Merujuk pada data yang sama, IHSG menjadi indeks saham terlemah di dunia sepanjang tahun 2026. Sejak awal tahun, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 34,19%.

Dari dalam negeri, IHSG tersengat sentimen pelemahan nilai tukar rupiah yang lagi–lagi terjerumus di posisi terlemah sepanjang sejarah. Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,45% di pasar spot menembus Rp18.030/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 4 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp18.100/US$ dan selanjutnya support paling pesimistis ialah Rp18.200/US$.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah setelah menembus level yang paling ditakuti Rp18.000/US$. Bagi pasar, level ini bukan sekadar angka tapi justru mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah kombinasi tekanan global dan domestik. 

Kekhawatiran pasar bukan tanpa alasan. Sepanjang 2026 rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia dengan depresiasi 7,44%.

Pelaku pasar kini mulai mempertanyakan seberapa kuat Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang semakin berat dengan menggunakan metode intervensi pasar.

Pada saat yang sama, yield US Treasury yang masih tinggi membuat arus modal asing cenderung keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia. Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, di pasar obligasi, yield surat US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,49%.

Kenaikan imbal hasil akan mendorong kenaikan biaya pinjaman dan berarti pengurangan laba perusahaan di masa depan, sehingga memberi tekanan pada valuasi saham.

Di sisi lain, lembaga rating Moody's Ratings untuk kali pertama memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah struktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Selain itu, pasar tengah dilanda kekhawatiran atas rumor yang merebak terkait penurunan rating oleh S&P Global menjadi BBB- dari sebelumnya BBB.

(fad)

No more pages