Logo Bloomberg Technoz

"Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menilai bahwa masalah listrik telah terjadi sejak akhir tahun 2025. Saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi terkait perbaikan kepada PLN dan ditargetkan selesai pada Juli 2026. 

“Proses penyelesaian perbaikan dari genset di Net Dependable Capacity (NDC) yang dioperasikan oleh PLN sedang dilakukan dan mudah-mudahan di pertengahan Juli, kita bisa beroperasi kembali,” ungkap Arifin. 

Hingga Mei 2026, produksi minyak, kondensat, dan NGL dari PT Pertamina Hulu Rokan mencapai 131.040 bph, atau baru terpenuhi 80% dari target APBN sebesar 163.859 bph.

“Sekarang year to date-nya di Rokan, produksi kita sudah di 131.000 bph dan insya Allah diprognosakan kalau semuanya lancar,” tambahnya. 

Arifin juga mengatakan pihaknya telah melakukan pengeboran 103 sumur migas baru, dari target sepanjang tahun ini sebanyak 460 sumur, guna meningkatkan produksi di Rokan.

“Lalu untuk kerja ulang juga sudah 86 sumur. Kerja ulang ini menjadi proses quick clean untuk recovery. Kerja ulang ini menjadi cukup penting buat kami, sambil juga mempercepat proses perbaikan di kelistrikan,” jelasnya. 

Senior Vice President ExxonMobil Indonesia, Muhammad Nurdin mengakui adanya penurunan produksi melalui lapangan Banyu Urip (Blok Cepu) karena kendala teknis (decline/reklame produksi).

Guna menyikapi tantangan tersebut, Exxon akan menggunakan beberapa pendekatan. Pertama, dengan mengoptimalisasi potensi bawah tanah (subsurface opportunity) untuk memaksimalkan pencarian dan pemanfaatan titik-titik cadangan minyak baru yang masih tersedia di dalam perut bumi.

Selain itu, akan dilakukan peningkatan fasilitas permukaan (surface facility) dengan tujuan menata ulang dan memaksimalkan kapasitas fasilitas di permukaan untuk mengatasi lonjakan produksi air yang menyertai produksi minyak (kondisi lapangan yang mulai banjir air).

Lalu, akan dilakukan facility reliability untuk menekan dan meminimalkan waktu henti produksi (downtime) agar operasional lapangan berjalan terus-menerus tanpa gangguan teknis.

"Kami yakin, dengan kapabilitas teknologi global yang dimiliki ExxonMobil serta keunggulan dalam eksekusi lapangan [execution excellence], kami mampu men-deliver target dan mengoptimalkan kembali hasil produksi dari Blok Cepu," ujarnya. 

Dalam catatan SKK Migas, produksi minyak ExxonMobil Cepu Ltd hingga Mei 2026 mencapai 129.915 bph atau baru terpenuhi 87,5% dari target APBN.

Selain PHR dan ExxonMobil Cepu, KKKS produksi terbesar lainnya diikuti oleh PT Pertamina EP dengan produksi 73.983 bph, lalu PT Pertamina Hulu Energi ONWJ sebesar 26.473 bph, Medco E&P Natuna Ltd sebesar 24.023 bph dan PT Pertamina Hulu Mahakam sebesar 25.575 bph.

(smr/ros)

No more pages