“Iya, iya [ditawarkan ke Shell],” ujar Djoksis.
Untuk diketahui, kerja sama antara Shell Plc dan Kufpec telah berlangsung sejak November 2025.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman sempat menyampaikan bahwa kerja sama ini mendorong Shell untuk kembali menunjukkan minat kepada industri hulu migas Indonesia.
“Kalau joint study kan siapa pun berminat boleh masuk. Shell masuknya di joint study. Baru mengusulkan, kan belum di-approve,” tuturnya kepada awak media di Kompleks Parlemen, Kamis (13/11/2025).
Di sisi lain, Kufpec diketahui tengah mencari mitra strategis untuk menggarap WK Natuna D-Alpha.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menyebut terdapat sejumlah perusahaan yang dinilai cocok untuk masuk ke proyek tersebut di antaranya Total Energies hingga Shell Plc.
Menurut Rikky, kedua perusahaan tersebut pantas untuk menemai Kufpec menggarap WK Natuna D-Alpha, sebab mereka memiliki teknologi yang mumpuni untuk menggarap ladang gas kaya karbondioksida (CO2) tersebut.
“Kufpec hari ini dia butuh anchor international company juga, atau local company-lah,” kata Rikky kepada Bloomberg Technoz di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
“Kufpec butuh yang bisa menjalankan teknologi kan. Dia butuh anchor, kayak Shell, terus ya offshore-lah, Total,” ujarnya.
Rikky menambahkan saat ini Kufpec juga mulai membuka data proyek kepada calon mitra potensial. “Dia buka data sih sekarang,” ucap Rikky.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, blok Natuna D-Alpha memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF).
Hanya saja, blok itu mencatat kandungan karbondioksida mencapai 71%. Konsekuensinya, kandungan gas yang bisa dieksploitasi hanya sekitar 46 TCF. Di samping itu, tercatat potensi kandungan minyak sekitar 2.865 juta barel (MMBO).
(smr/ros)




























