Pertama, defisit ganda yang berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan ikut menambah sentimen buruk bagi kondisi perekonomian domestik. Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar.
Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar. Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.
Kedua, data inflasi yang melonjak menjadi 3,08% pada Mei semakin menambah kekhawatiran investor terkait daya beli masyarakat yang selama ini menjadi penggerak mesin pertumbuhan dalam bentuk konsumsi. Inflasi periode Mei tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,7%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%.
Ketiga, Moody's Ratings untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah struktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Danantara digadang-gadang akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi dengan sejumlah investasinya. Namun, rating ini seakan memadamkan mesin yang sebenarnya baru akan dinyalakan itu.
(dsp/aji)






























