Logo Bloomberg Technoz

Djoko menjelaskan Pertamina Hulu Rokan saat ini masih terkendala karena adanya masalah surface (permukaan) terkait infrastruktur suplai gas dan listrik. Sedangkan Exxon Mobil Cepu memiliki kendala dalam reservoir-nya, di mana terjadi penurunan produksi alamiah (natural decline).

“Tadi sudah dijelaskan [PHR] permasalahan surface terkait listrik. Dan untuk Cepu ini permasalahan reservoir, di mana dari pengeboran terjadi penurunan [produksi] minyaknya. Yang keluar saat ini kebanyakan air dan gas,” tambahnya.

Berikut 20 KKKS penyumbang produksi minyak terbesar periode Januari-Mei 2026:

1. PT Pertamina Hulu Rokan: 131.040 bph
2. PT Exxon Mobil Cepu Ltd: 129.915 bph
3. PT Pertamina ΕΡ: 73.983 bph
4. PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java: 26.473 bph
5. Medco E&P Natuna Ltd: 24.023 bph
6. PT Pertamina Hulu Mahakam: 25.575 bph
7. PT Pertamina Hulu Energi Oses: 18.036 bph
8. PT Pertamina Hulu Sanga-sanga: 14.957 bph
9. Petrochina International Jabung Ltd: 27.478 bph
10. Job Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi: 9.291 bph
11. PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur: 8.543 bph
12. Saka Indonesia Pangkah Ltd: 8.754 bph
13. PT Bumi Siak Pusako: 7.352 bph
14. BP Berau Ltd: 7076 bph
15. PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang: 5.030 bph
16. Texcal Energy Mahato Inc: 4.997 bph
17. PC Ketapang Ltd: 4.833 bph
18. PT Imbang Tata Alam: 4.654 bph
19. PT Medco E&P Rimau: 4.039 bph
20. Petrogas (Basin) Ltd: 4.203 bph

Di sisi lain, Djoko juga menyampaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) tahun 2026 diperkirakan mencapai US$86 per barel, sedangkan untuk 2027 diproyeksikan turun menjadi US$80 per barel.

"Untuk ICP realisasi 2026, sampai Mei US$86 per barel, nah ini yang menyebabkan harga Pertalite dan seolah-olah subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun karena target dananya cukup sampai bila ICP ini mencapai 100," kata Djoko.

(smr/ros)

No more pages