Hanya ada 37 saham yang menguat. Sedang 722 saham melemah, dan 55 saham lainnya tidak bergerak.
Sejumlah saham menjadi pemberat IHSG. Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur mencatatkan penurunan paling jeblok, dengan masing–masing terjerembab mencapai 10,2%, 6,79% dan 6,55%.
Berikut sejumlah saham yang menjadi laggard terbesar:
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 22,07 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 21,19 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menekan 17,71 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 12,72 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 11,31 poin
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Sepanjang hari ini, rupiah terbilang amat lesu di hadapan dolar Amerika Serikat.
Per pukul 14:30 WIB, US$1 setara dengan Rp17.950. Rupiah melemah 0,63% dan menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah.
Saat rupiah melemah, beban utang luar negeri emiten bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Hal ini akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad/aji)




























