Bursa saham Asia lainnya justru melesat di zona hijau. NIKKEI 225 (Jepang), TOPIX (Jepang), PSEi (Filipina), Weighted Index (Taiwan), CSI300 (China), Shenzhen Comp. (China), Straits Time (Singapura), Shanghai Composite (China), dan KLCI (Malaysia), yang berhasil menguat masing–masing 2,98%, 2,18%, 1,99%, 1,98%, 1,07%, 0,98%, 0,78%, 0,51%, dan 0,49%.
Adapun saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur menjadi yang melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 10,2%, 7,16% dan 6,72%.
Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers antara lain:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menekan 17,71 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 17,34 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 16,48 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 14,7 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 10,56 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menekan 10,36 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menekan 9,23 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menekan 8,9 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 8,65 poin
- PT Mayapada Hospital Tbk (SRAJ) menekan 6,95 poin
Sentimen yang mengobarkan IHSG sepanjang perdagangan hari ini datang dari laporan terbaru Moody's Ratings yang untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah struktur BPI Danantara, menetapkan outlook negatif untuk seluruh peringkat yang diberikan.
Selain peringkat kredit, Moody's juga memberikan peringkat provisional (P)Baa2 untuk program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan yang dibentuk DIM, serta peringkat Baa2 untuk obligasi senior unsecured yang akan diterbitkan perusahaan.
Menurut Moody's, peringkat DIM disejajarkan dengan peringkat utang Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan outlook negatif.
Terlebih lagi, beredar isu laporan S&P Global Ratings yang menurunkan peringkat kredit (rating) Indonesia. Kendatipun diskusi tersebut masih berada pada tahap dini dan belum menghasilkan kesimpulan, perlu dicatat– apabila peringkat Indonesia diturunkan menjadi BBB-, Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade (layak investasi).
Penurunan peringkat tersebut kemungkinan akan memicu penyesuaian (repricing) pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil (yield) obligasi. Namun, karena status investment grade masih dipertahankan, dinilai dampaknya akan lebih banyak bersifat sentimen pasar dibandingkan memicu arus keluar dana yang didorong oleh mandat investasi (mandate–driven outflows).
“Pelemahan (IHSG) ini juga dipengaruhi oleh beredarnya rumor mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi BBB-,” papar Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya, Rabu siang.
Hal ini seiring dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga berada di level Rp17.935/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg. Kinerja rupiah saat ini tercatat lebih lemah dibanding Rupee India yang terdepresiasi 6,33% year–to–date terhadap dolar AS, sehingga mendorong adanya foreign exchange risk bagi investor asing yang memberikan tekanan terhadap aliran modal dan sentimen di pasar saham Indonesia.
Di lain sisi, Neraca Perdagangan Indonesia mengalami penyusutan surplus pada April 2026 menjadi US$89,1 juta (dari yang sebelumnya: US$3,3 miliar) seiring pertumbuhan impor melampaui pertumbuhan ekspor, surplus net ekspor ini ditandai masih berlanjut selama 72 bulan berturut-turut.
“Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sepanjang 72 bulan tersebut,” terang Panin.
Serupa, Phintraco Sekuritas menyebut, investor juga cemas menantikan pengumuman MSCI pada Juni 2026, di mana MSCI akan mengumumkan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review (est. 18 Juni) yang menilai akses pasar bagi investor internasional.
Bersamaan dengan pengumuman MSCI 2026 Annual Market Classification Review (est. 23 Juni) yang menentukan klasifikasi pasar saham suatu negara (develop market, emerging market, frontier market, standalone market).
“Pasar domestik menunggu keputusan MSCI terkait hasil evaluasi reformasi pasar modal Indonesia,” jelas Phintraco terhadap penyebab pelemahan IHSG yang amat dalam, Rabu.
Sebelumnya MSCI menyatakan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten, serta membuka kemungkinan peninjauan status Indonesia sebagai Emerging Market. Pada April 2026, MSCI memperpanjang masa review hingga Juni 2026 sebelum mengambil keputusan final.
(fad)

























