Logo Bloomberg Technoz

Budi menegaskan hantavirus bukan merupakan penyakit baru di Indonesia. Menurut dia, virus tersebut telah terdeteksi sejak awal tahun 2000-an dan sejumlah penelitian seroprevalensi menunjukkan masyarakat di beberapa wilayah Indonesia telah memiliki antibodi terhadap virus tersebut.

Ia mencontohkan hasil survei yang menemukan sekitar 16% masyarakat di Bali memiliki antibodi hantavirus. Sementara itu, tingkat seroprevalensi di Jakarta dan Surabaya tercatat sekitar 13%.

“Nah, Hanta ini buat teman-teman, sebenarnya sudah lama dari awal 2000-an. Jadi virusnya sudah ada dan sudah pernah diuji seroprevalensi survei. Jadi memang ini bukan virus baru, sudah ada dulu di Indonesia,” kata Budi.

Meski demikian, Menkes menilai tingkat fatalitas hantavirus di Indonesia relatif rendah. Pemerintah tetap melakukan pemantauan dan langkah antisipasi untuk memastikan tidak terjadi penyebaran lebih lanjut, terutama setelah adanya laporan kasus yang berkaitan dengan penumpang kapal pesiar MV Hondius.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik karena hingga saat ini tidak ditemukan indikasi penularan lanjutan dari kasus tersebut di Indonesia.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni mengatakan identifikasi kasus kontak erat seorang warga negara asing bermula dari laporan International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) Inggris yang diterima pemerintah Indonesia pada 7 Mei 2026 malam.

Pria berusia 60 tahun itu diketahui memiliki riwayat kontak sangat dekat dengan pasien konfirmasi kedua dari klaster kapal pesiar yang sebelumnya meninggal dunia. Keduanya disebut sempat berada di kapal pesiar yang sama dan melakukan perjalanan bersama sebelum turun di St. Helena pada 24 April 2026.

Menurut Andi, WNA yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Indonesia itu juga sempat menginap di hotel yang sama dengan pasien meninggal saat berada di St. Helena. Selain itu, keduanya berada dalam satu penerbangan dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dengan posisi kursi yang berdekatan.

“Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, keesokan harinya kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor,” ujar Andi dalam konferensi pers secara daring, Senin (11/5/2026).

Meski hasil pemeriksaan menunjukkan negatif dan pria tersebut tidak mengalami gejala klinis, Kemenkes menyatakan yang bersangkutan masih menjalani karantina serta pemantauan ketat di RSPI Sulianti Saroso sebagai langkah kewaspadaan.

(dec)

No more pages