“Perubahan iklim sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa ekspektasi yang didasarkan pada iklim yang sudah tidak ada lagi dapat diabaikan,” kata salah satu penulis laporan, Clair Barnes, peneliti di Imperial College London, dalam pernyataannya, seperti dilansir dari Mongabay, Selasa (2/6/2026).
“Analisis kami menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semakin sedikit waktu dalam setahun yang aman bagi jutaan umat Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji.”
Risiko ini sangat tinggi bagi jemaah yang menghabiskan 20 hingga 30 jam di luar ruangan, seringkali berjalan jauh di tengah keramaian, seperti yang dicatat dalam laporan tersebut. Suhu maksimum melebihi 40°C pada Mei, yang dulu merupakan kejadian langka, kini diperkirakan akan terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali.
Laporan tersebut menambahkan bahwa pada 2024, lebih dari 1.300 jemaah haji meninggal selama ibadah haji yang berlangsung pada Juni, bertepatan dengan gelombang panas yang mencapai 51°C.
Otoritas Saudi telah menerapkan langkah-langkah seperti kipas pendingin dan stasiun pendingin untuk mengurangi dampak panas selama ibadah haji. Namun, laporan tersebut menyoroti bahwa langkah-langkah ini mungkin tidak dapat diakses oleh semua orang, terutama mereka yang tidak memiliki izin resmi.
“Langkah-langkah seperti kipas pendingin dan stasiun air sangat penting, tetapi kita harus menghadapi kenyataan bahwa jika suhu terus naik dengan laju ini, kesehatan dan nyawa jutaan orang selama ibadah haji mereka akan terancam,” kata Emmanuel Raju, direktur Copenhagen Centre for Disaster Research, Universitas Kopenhagen di Denmark, dalam pernyataan.
Laporan tersebut mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa jika suhu global naik sebesar 3°C pada tahun 2100, sekitar 97% dari seluruh ibadah haji akan berlangsung selama periode panas ekstrem yang berbahaya.
Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, mengatakan dalam pernyataannya bahwa meski industri bahan bakar fosil merupakan inti dari perekonomian Saudi, hal itu memaksa para jemaah “untuk menjalankan ritual haji dalam iklim yang sama sekali tidak cocok untuk itu.”
(ros)
































