Dia menyatakan selisih harga keekonomian Pertamax dengan harga jual sekitar Rp3.827—Rp4.127/liter yang ditanggung oleh Pertamina bakal menembus Rp2,2 triliun sampai Rp2,3 triliun jika dihitung dengan rata-rata konsumsi Pertamax sekitar 565 juta liter per bulan.
Jika kebijakan menahan harga Pertamax dilakukan sampai akhir tahun, Josua memprediksi beban kumulatif yang timbul pada Juni—Desember 2026 dapat mencapai Rp15 triliun sampai Rp16,5 triliun .
“Angka ini masih indikatif karena volume realisasi Pertamax, harga MOPS, kurs rata-rata, pajak, biaya distribusi, dan margin badan usaha akan menentukan angka finalnya,” tegas dia.
Pilihan Sulit
Josua menilai Pertamina dan pemerintah menghadapi pilihan yang sulit. Jika harga Pertamax dinaikkan mendekati nilai keekonomian, inflasi berpotensi langsung melonjak kendati tidak separah yang akan terjadi jika harga Pertalite (RON 90) yang dinaikkan.
Sebaliknya, jika harga Pertamax terus ditahan, inflasi memang dapat terkendali dalam jangka pendek. Namun, beban Pertamina dan risiko kompensasi menjadi meningkat.
Walhasil, dia menyarankan agar harga Pertamax mulai dilakukan penyesuaian terbatas apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak kunjung menguat.
“Misalnya bertahap Rp500 sampai Rp1.000 per liter, agar beban tidak menumpuk terlalu besar,” ungkap Josua.
Sekadar informasi, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengumumkan kenaikan harga BBM jenis nonsubsidi Pertamax Turbo, sementara harga BBM nonsubsidi jenis diesel mengalami penurunan.
Harga BBM Pertamax Turbo (RON 98) tercatat naik sebesar Rp850 menjadi seharga Rp20.750/liter dari bulan sebelumnya yang masih dibanderol Rp19.900/liter.
Sementara itu, harga BBM jenis solar nonsubsidi Dexlite justru mengalami penurunan sebesar Rp3.000 menjadi Rp26.000/liter dari sebelumnya yang masih dibanderol sebesar Rp23.000/liter.
Harga BBM sola lainnya, Pertamina Dex juga turun sebesar Rp3.100 menjadi Rp24.800/liter dari Mei yang masih dibanderol Rp27.900/liter.
Di sisi lain, harga Pertamax tercatat tidak mengalami perubahan atau tetap Rp12.300/liter.
Begitu juga dengan BBM subsidinya, yakni Pertalite (RON 90) yang juga masih dibanderol Rp10.000 dan biosolar yang masih dibanderol Rp6.800/liter. Harga Pertamax Green (RON 95) juga tetap Rp12.900/liter.
Adapun, pada bulan lalu, PT Pertamina Patra Niaga sempat mengonfirmasi harga keekonomian Pertamax sudah menembus sekitar Rp17.000-an/liter.
Akan tetapi, atas hasil diskusi dengan pemerintah, perseroan memutuskan menahan harga Pertamax di level Rp12.300/liter sejak April lalu.
Roberth mengungkapkan perseroan bakal menanggung selisih harga jual dan keekonomian Pertamax terlebih dahulu. Setelah itu, pemerintah bakal membayarkan kompensasi energi dengan besaran yang bakal didiskusikan dan dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.
“Ya, kurang lebih begitu kalau range hargannya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter],” kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).
“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” tegas dia.
Untuk diketahui, per kuartal I-2026, Kementerian Keuangan melaporkan belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp118,7 triliun, melonjak 266,5% secara year on year (yoy), seiring dengan perubahan skema pencairan kompensasi ke Pertamina dan PLN dengan skema bulanan.
Perinciannya, belanja subsidi energi kuartal pertama tahun ini mencapai senilai Rp52,2 triliun, sedangkan kompensasi Rp66,5 triliun.
Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk BBM, gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.
(azr/wdh)































