Grab lewat Kudo Teknologi Indonesia dan A5-DB Holdings Pte. Ltd sebelumnya telah menghimpit saham SUPA masing-masing 16,6% dan 15,94%.
Adapun, Elang Media Visitama menguasai 27,59% saham SUPA, mencerminkan kepemilikan 9,35 miliar saham. Sementara investor institusi lain dari SUPA, Kakaobank Corp menghimpit 8,65% saham.
Presiden dan Chief Operating Officer Grab, Alex Hungate mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia.
"Konsolidasi ini merupakan langkah untuk memperdalam model ekosistem yang telah kami bangun dan memperluas dampaknya, sekaligus mempertegas komitmen jangka panjang kami untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia," ujar Hungate dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (2/6/2026).
Menurut Grab, Indonesia merupakan salah satu pasar layanan keuangan digital paling menjanjikan di Asia Tenggara karena didukung populasi besar, tingkat adopsi teknologi yang terus meningkat, serta masih luasnya ruang pertumbuhan layanan keuangan formal.
Grab menilai Superbank memiliki posisi yang kuat untuk menangkap peluang tersebut melalui integrasi dengan ekosistem Grab dan OVO. Hingga April 2026, sekitar 60% nasabah Superbank tercatat juga merupakan pengguna Grab atau OVO.
Hungate menyebut kombinasi antara layanan perbankan digital Superbank dengan ekosistem konsumen Grab menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan keuangan grup di Indonesia.
"Superbank telah menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan menjadi contoh bagaimana layanan keuangan dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam aktivitas sehari-hari masyarakat," ujar Hungate.
Pertumbuhan tersebut tercermin dari kinerja operasional perseroan. Di mana, per April 2026, Superbank memiliki lebih dari 6 juta nasabah dengan volume transaksi harian melampaui 1 juta transaksi. Pada periode yang sama, aset perseroan tumbuh 72% secara tahunan menjadi Rp24 triliun, sedangkan pendapatan bunga bersih meningkat 84%.
Grab juga menyoroti pencapaian Superbank yang membukukan laba penuh pertama pada tahun buku 2025, hanya beberapa bulan setelah melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada Desember tahun lalu.
Menurut perusahaan, IPO tersebut memperkuat posisi permodalan Superbank dan meningkatkan status bank menjadi KBMI 2, yang memungkinkan perseroan memperluas kapasitas bisnis dan penyaluran kredit.
"Kami percaya Superbank berada pada posisi yang baik untuk terus bertumbuh dan melayani lebih banyak masyarakat Indonesia melalui produk keuangan yang mudah diakses, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari," imbuh Hungate.
Meski Singtel tidak lagi memiliki kepemilikan langsung di Superbank, perusahaan telekomunikasi asal Singapura tersebut tetap terlibat melalui GXS Bank, perusahaan patungan yang dimiliki bersama Grab. Struktur kepemilikan baru tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan bisnis perbankan digital grup di Asia Tenggara.
(cpa/naw)






























