Dalam wawancara telepon dengan salah satu media AS, Presiden AS Donald Trump mengatakan memorandum kesepahaman dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam pekan depan. Meski demikian, ia menegaskan masih ada beberapa poin yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan dapat dirampungkan.
Namun, pertanyaan berbeda datang dari Iran. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran dan kelompok sekutunya di kawasan tengah mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Kedua jalur tersebut merupakan koridor strategis bagi perdagangan minyak global, dengan Bab el-Mandeb menjadi alternatif penting bagi ekspor minyak dari Timur Tengah.
Ketidakpastian tersebut membuat pasar kembali mengkhawatirkan risiko gangguan pasokan energi terus berlanjut.
"Jika muncul indikasi lebih lanjut bahwa para pihak tidak lagi aktif bernegosiasi, pasar akan kehilangan sebagian faktor penyangga yang selama ini mendukung ekspektasi skenario terbaik," ujar Rebecca Babin, Senior Energy Trader di CIBC Private Wealth Group, seperti dikutip Bloomberg News.
Menurutnya, konflik ini telah diwarnai berbagai perubahan arah dan belum ada perkembangan yang benar-benar final.
Situasi geopolitik yang belum menemukan titik terang, berpotensi terus membayangi sentimen investor sepanjang hari ini. Meski begitu, pergerakan mata uang Asia pada perdagangan pagi ini masih menunjukkan respons yang relatif terbatas.
Dari pasar yang sudah buka, dolar Singapura, yuan offshore, dan yen Jepang menguat terbatas, masing-masing 0,02% dan 0,01%. Sementara, baht Thailand melemah 0,24% dan won Korea Selatan melemah terbatas 0,07%.
Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar hari ini akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan regional.
Di Indonesia, investor akan mencermati rilis inflasi dan neraca perdagangan Mei, sementara pasar juga menunggu data penjualan ritel Hong Kong serta berbagai indikator aktivitas manufaktur dari sejumlah negara Asia.
Di kawasan, Korea Selatan dijadwalkan merilis data inflasi, Jepang mengumumkan perkembangan basis moneter, sedangkan Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura akan mempublikasikan indeks aktivitas manufaktur Purchasing Manager's Index (PMI.
Australia turut menjadi sorotan dengan sederet data ekonomi, mulai dari transaksi berjalan, persetujuan pembangunan, kredit sektor swasta, laba operasional perusahaan, hingga persediaan kuartal pertama.
Di tengah kombinasi risiko geopolitik yang maish tinggi, harga minyak yang bertahan di level atas, serta agenda ekonomi padat dengan data indikator makro yang akan menentukan arah pasar, tekanan terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang diperkirakan belum akan reda.
Dalam kondisi seperti ini, sepertinya ruang penguatan rupiah masih akan sangat terbatas, sementara volatilitas berpotensi tetap tinggi sepanjang perdagangan hari ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah gagal bertahan di bawah level Rp17.800/US$, dengan melemah 0,48% ke posisi Rp17.874/US$.
Momentum penguatan dolar AS dan tingginya volatilitas harga energi membuat pelaku pasar cenderung mempertahan posisi defensif. Saat ini, sepertinya area Rp17.900-Rp18.000/US$ jadi level psikologis yang akan terus memengaruhi pergerakan pasar.
Apalagi, sentimen terhadap kondisi domestik Indonesia juga belum sepenuhnya reda. Pasar mencermati apakah Indonesia memiliki policy anchor dalam bentuk kebijakan yang konsisten, kredibel, dan cukup untuk menghadapi kondisi global yang lebih volatil.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berisiko lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp17.900/US$. Level pelemahan selanjutnya berharap tertahan di Rp17.950/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah mengonfirmasi tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka kemungkinan bisa membentuk all time low baru ke Rp18.000/US$.
Namun apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, maka resistance terdekat dapat menuju Rp17.800/US$. Sementara rentang gerak rupiah dalam resistance di antara Rp17.750-17.700/US$.
(riset/aji)


























