Dari sisi perdagangan luar negeri, dia memperkirakan Indonesia masih berpotensi mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026, meski nilainya diperkirakan jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
"Perkiraan saya surplus di kisaran US$ 1,4 miliar - US$1,6 miliar, turun dari surplus Maret sebesar US$3,32 miliar," katanya.
Penyebabnya, lanjut dia, pertumbuhan impor mulai lebih agresif, terutama untuk kebutuhan energi, bahan baku, dan barang modal. Di sisi lain, ekspor masih menghadapi tekanan moderasi harga komoditas global.
"Catatan penting, munculnya kombinasi antara inflasi tang meningkat dan surplus perdagangan yang menyempit. Ini menunjukan fondasi ekonomi mengalami pelemahan, ruang bantalan ekonomi mulai berkurang," tegas Badiul.
Dia menjelaskan surplus perdagangan selama ini ditopang hilirisasi berbasis sumber daya alam, sehingga sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global dan permintaan dari negara mitra dagang utama.
Maka itu, dia menyarankan pemerintah bersama Bank Indonesia untuk mengambil langkah antisipasi, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui penguatan pasokan devisa hasil ekspor dan intervensi yang terukur agar inflasi barang impor atau imported inflation tidak semakin besar.
Selain itu, pemerintah dan bank sentral juga perlu memperkuat operasi pasar dan menjaga stabilisasi pasokan pangan menjelang periode permintaan musiman.
Tak kalah penting, mempercepat hilirisasi yang berorientasi pada industri manufaktur bernilai tambah tinggi, sehingga surplus perdagangan tidak bergantung pada siklus komoditas.
Para pemangku kepentingan juga perlu menjaga keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan momentum pertumbuhan ekonomi agar pengetatan moneter tidak terlalu menekan sektor riil dan investasi domestik.
Jika tidak, maka ekonomi akan rapuh dan dapat berimbas pada gejolak ekonomi dan sosial di tengah masyarakat," tegasnya.
(lav)



























