“Jadi, stimulus ini lebih banyak mempercepat keputusan perjalanan, memperpanjang durasi kunjungan, atau mengalihkan pilihan moda transportasi, bukan menciptakan permintaan baru sepenuhnya,” kata Josua.
Menurutnya, relevansi stimulus ini masihlah cukup kuat karena pada triwulan I 2026 konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar, dengan andil 2,94 poin%tase terhadap pertumbuhan ekonomi 5,61%.
Sementara itu, sektor yang terkait mobilitas juga tumbuh kuat, yaitu akomodasi dan makan minum 13,14% serta transportasi dan pergudangan 8,04% yang cenderung menunjukkan pengaruh pergerakan masyarakat ke sektor-sektor seperti transportasi, hotel, restoran, perdagangan, dan UMKM daerah.
“Untuk periode Juni sampai Juli, dampaknya kemungkinan positif tetapi tidak setinggi masa Lebaran atau Nataru karena libur sekolah tidak selalu memiliki dorongan sosial-keagamaan yang sama kuat,” lanjutnya,
Apalagi, Survei Penjualan Eceran BI justru menunjukkan ekspektasi penjualan Juni 2026 menurun dibanding Mei, antara lain karena musim ujian sekolah, sementara tekanan harga Juni diperkirakan meningkat karena kenaikan harga bahan baku.
Dengan demikian, menurutnya stimulus tarif transportasi dapat berfungsi sebagai penahan perlambatan konsumsi setelah Idulfitri, terutama di sektor wisata domestik, rekreasi, dan perjalanan keluarga. Namun, efeknya akan lebih kuat jika tiket yang lebih murah disertai kepastian jadwal, promosi destinasi daerah, paket hotel, dan kesiapan infrastruktur destinasi.
Sementara untuk Nataru, dampaknya berpotensi lebih besar karena permintaan perjalanan biasanya lebih luas, baik untuk liburan keluarga, mudik, kegiatan keagamaan, maupun wisata akhir tahun.
Apalagi, pada periode Nataru, stimulus juga lebih mudah menghasilkan efek berlapis karena perjalanan tidak hanya mendorong tiket transportasi, tetapi juga belanja makanan, oleh-oleh, hotel, transportasi lokal, tempat wisata, dan ritel daerah.
“Pengalaman stimulus mudik Idulfitri 2026 memberi gambaran bahwa diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar menjadi bagian dari paket kebijakan yang diproyeksikan mendukung konsumsi rumah tangga, yang porsinya sekitar 53 sampai 54% terhadap PDB,” katanya.
Penggerak Ekonomi Daerah
Josua juga berargumen bahwa meski tak bisa mengubah arah pertumbuhan ekonomi nasional sendirian, namun cukup berguna dalam memicu perputaran uang di daerah.
“Setiap perjalanan biasanya menciptakan belanja tambahan di luar tiket, seperti hotel, makanan-minuman, transportasi lokal, parkir, tiket wisata, oleh-oleh, dan jasa informal. Karena itu, daerah tujuan wisata, kota asal mudik, dan kota transit akan memperoleh manfaat lebih besar daripada daerah yang tidak siap menerima lonjakan wisatawan,” kata Josua.
Josua juga bilang bahwa efek stimulus ini juga akan optimal jika pemerintah daerah menyiapkan kalender wisata, pengendalian harga pangan, kebersihan destinasi, pengaturan lalu lintas, dan promosi UMKM lokal.
Namun demikian, Josua juga mengingatkan risiko berbagai stiumulus yang digelontorkan oleh pemerintah di hari-hari besar keagamaan dan juga saat liburan sekolah ini.
“Risiko utamanya adalah stimulus bisa bocor menjadi kenaikan harga di sektor lain jika kapasitas terbatas. Bila tiket lebih murah tetapi tarif hotel, makanan, transportasi lokal, dan biaya wisata naik tajam, maka manfaat bagi rumah tangga berkurang,” kata Josua.
Selain itu, Josua juga mengamati adanya potensi risiko kedua yakni adanya kemacetan, keterlambatan, dan penumpukan penumpang yang dapat menurunkan kualitas perjalanan. Risiko ketiga adalah beban fiskal jika skema kompensasi tidak transparan atau tidak tepat sasaran.
“Karena itu, rekomendasi saya adalah stimulus perlu ditargetkan pada kelas ekonomi, rute dengan permintaan tinggi tetapi masih punya kapasitas, serta periode pembelian yang cukup panjang agar operator bisa mengatur kapasitas,” katanya.
Josua juga beranggapan bahwa pemerintah juga perlu memastikan operator tidak menaikkan tarif dasar sebelum diskon diberikan, agar subsidi benar-benar menurunkan harga akhir bagi masyarakat.
(ell)





























