Logo Bloomberg Technoz

Tokyo sebelumnya telah meluncurkan penyelidikan tahun lalu terhadap impor beberapa jenis baja berlapis dan baja nirkarat dari sejumlah negara yang sama.

China, yang merupakan produsen baja terbesar di dunia, telah meningkatkan ekspor untuk mengimbangi melemahnya permintaan domestik, memicu penolakan perdagangan dari Asia hingga Eropa dan Amerika Latin.

Pertumbuhan kapasitas baja baru di Asia Tenggara juga memperketat persaingan regional dan memaksa perusahaan-perusahaan mencari pasar baru.

Produk yang menjadi sasaran investigasi disebut dijual ke Jepang dengan harga hingga 50% di bawah "nilai normal"-nya, menurut tuduhan produsen baja Jepang dalam pengajuan permohonan investigasi perdagangan pada Februari.

Baja datar (flat steel) tersebut digunakan secara luas di berbagai sektor, mulai dari otomotif dan barang konsumsi hingga mesin dan kemasan.

Pada Februari, China mencapai kesepakatan harga dengan Korea Selatan untuk menyelesaikan penyelidikan anti-dumping yang diluncurkan Seoul.

Australia mengenakan tarif hingga 82% terhadap baja hot-rolled coil asal China pada awal Mei, sementara Turki pada akhir Desember memutuskan memberlakukan bea masuk anti-dumping sebesar 3,95% terhadap produk baja tertentu dari China.

Kementerian terkait menyatakan bahwa investigasi terbaru Tokyo tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu satu tahun.

(bbn)

No more pages