"Perundingan dan pertukaran pesan masih terus berjalan. Sebelum ada hasil yang pasti, kami belum bisa memberikan penilaian," ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, seperti dikutip dari Tasnim. "Semua hal yang beredar saat ini barulah spekulasi dan tidak perlu dibesar-besarkan."
Di sisi lain, konflik regional kian memanas setelah Israel melancarkan operasi militer terluasnya ke Lebanon dalam seperempat abad terakhir. Langkah ini diambil setelah kelompok Hizbullah—sekutu regional terkuat Iran—meningkatkan serangan ke wilayah utara Israel.
Militer Israel menyatakan bahwa Hizbullah telah menembakkan lebih dari 300 proyektil ke arah tentara mereka di Lebanon dan ke wilayah utara Israel sepanjang akhir pekan lalu. Eskalasi terbaru ini merusak gencatan senjata rapuh yang sempat dideklarasikan setelah Hizbullah menyerang Israel. Serangan tersebut merupakan respons atas perang terhadap Iran yang diluncurkan Israel bersama AS pada 28 Februari lalu.
Israel sendiri tidak terlibat dalam perundingan antara AS dan Iran. Belum ada kejelasan apakah Tel Aviv akan bersedia menghentikan perang sekunder di Lebanon tersebut jika konflik dengan Iran berhasil diselesaikan.
Poin-Poin Perundingan
Pada Sabtu, televisi pemerintah Iran melaporkan adanya rancangan kesepakatan baru yang disebut memberikan “kewenangan eksklusif kepada Republik Islam untuk menentukan karakter kapal yang melintas” di Selat Hormuz, sebuah poin negosiasi yang kemungkinan besar tidak akan diterima oleh AS.
Trump sebelumnya pernah mengatakan Iran dan AS dapat mengelola lalu lintas di Selat Hormuz melalui mekanisme kerja sama bersama. Namun pekan ini, pemimpin AS itu menegaskan tidak akan ada satu negara pun yang mengendalikan selat tersebut, meskipun Amerika Serikat akan “mengawasinya”.
Rancangan tersebut juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat berkomitmen memberikan akses kepada Iran terhadap dana beku senilai US$12 miliar dalam waktu 60 hari, yang akan langsung dikirim ke bank-bank Iran tanpa pembatasan apa pun. Informasi itu disampaikan televisi pemerintah Iran yang juga menegaskan dokumen tersebut masih bersifat “tidak resmi” dan belum “difinalisasi”.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim bahwa komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir — yang selama ini menjadi salah satu sumber utama perselisihan — kini telah menjadi bagian dari pembahasan dengan AS.
“Ini pertama kalinya Iran bersedia — dalam 47 tahun terakhir — membahas kemungkinan untuk tidak memiliki senjata nuklir,” kata Bessent dalam program Sunday Morning Futures di Fox News. “Untuk pertama kalinya hal itu berada di atas meja perundingan berkat Presiden Trump.”
Iran berulang kali menegaskan sejak kesepakatan nuklir 2015 pada era pemerintahan Barack Obama bahwa mereka tidak mengembangkan senjata nuklir. Dalam kesepakatan tersebut, Iran setuju membatasi pengayaan uranium yang diklaim untuk kebutuhan energi nuklir serta mengirim cadangan uraniumnya ke luar negeri. Namun setelah Trump membatalkan kesepakatan itu pada masa jabatan pertamanya, Iran kembali meningkatkan pengayaan uranium melampaui batas yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.
Pasar keuangan terus bergejolak akibat perubahan retorika yang terjadi secara tiba-tiba. Meski demikian, harapan terhadap perpanjangan gencatan senjata membantu mendorong pasar saham menuju rangkaian kenaikan mingguan bersejarah pada akhir pekan lalu, meskipun serangan sporadis masih terjadi.
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan Trump tampaknya bersedia menerima kesepakatan yang tidak sempurna demi meredakan kekhawatiran Partai Republik menjelang pemilu legislatif pada musim gugur, ketika para pemilih mulai frustrasi akibat melonjaknya harga energi.
“Ini adalah kesepakatan tentang harga bensin di pompa-pompa BBM di Amerika Serikat,” kata Bolton dalam program Bloomberg This Weekend. “Trump jelas khawatir dengan harga yang harus dibayar masyarakat. Dia khawatir terhadap dampaknya terhadap inflasi. Dia khawatir terhadap dampaknya terhadap pemilu bulan November. Namun ini bukan kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang dengan cara yang memuaskan bagi Amerika Serikat.”
Bolton memperingatkan bahwa membiarkan pemerintahan Iran tetap berkuasa akan memberi kesempatan bagi negara itu untuk membangun kembali kekuatan militer dan kemampuan nuklirnya.
“Jika rezim Iran dibiarkan bertahan, yang tampaknya siap diakui oleh Trump, mereka hanya akan mendapatkan manfaat dari dibukanya kembali Selat Hormuz untuk menjual lebih banyak minyak, memperoleh pendapatan lebih besar, dan memperkuat kekuasaan mereka,” ujarnya.
Pasukan AS Terluka
Serangan rudal balistik Iran terhadap sebuah pangkalan udara di Kuwait dalam beberapa hari terakhir menyebabkan luka ringan pada sejumlah warga Amerika dan merusak parah dua drone serang MQ-9 Reaper, menurut seseorang yang mengetahui langsung insiden tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut sumber tersebut, rudal berhasil dicegat, namun puing-puing yang jatuh melukai sekitar lima orang, termasuk kontraktor dan personel militer aktif. Satu unit MQ-9 Reaper hancur, sementara setidaknya satu unit lainnya mengalami kerusakan berat. Setiap drone tersebut bernilai sekitar US$30 juta.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait insiden tersebut.
Blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz juga menghentikan sebuah kapal berbendera Gambia yang sedang menuju pelabuhan Iran pada Jumat lalu, demikian diumumkan militer AS pada Sabtu. Sebuah pesawat AS melumpuhkan kapal tersebut dengan menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin setelah awak kapal mengabaikan lebih dari 20 peringatan, menurut pernyataan CENTCOM yang dipublikasikan melalui X.
Pendudukan Strategis
Sebelumnya pada Minggu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan militer Israel telah mengibarkan bendera negaranya di Kastel Beaufort yang bersejarah, dekat Nabatieh, dan menyebut perluasan operasi itu sebagai “kehadiran permanen” di kawasan tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam langkah terbaru Israel dan menyerukan gencatan senjata.
“Tidak ada yang dapat membenarkan eskalasi besar yang saat ini terjadi di Lebanon selatan,” tulis Macron melalui akun X.
Serangan udara Israel sebagai respons atas kembali meningkatnya serangan Hizbullah sejak Maret telah menghancurkan wilayah luas di Lebanon selatan serta ibu kota Beirut, dan menewaskan setidaknya 3.370 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
(bbn)






























