Saham Gap turun hingga 16% dalam perdagangan setelah jam bursa. Saham perusahaan tersebut turun 2,3% sepanjang tahun ini hingga penutupan perdagangan Kamis.
Dalam panggilan dengan analis, Dickson mengakui adanya “kinerja yang bervariasi” di berbagai merek perusahaan.
“Meskipun kami tidak memulai sekuat yang kami perkirakan, kami masih berada di awal tahun,” katanya.
Di Old Navy, merek terbesar perusahaan, pilihan produk musiman yang mengecewakan berdampak negatif terhadap penjualan, kata Dickson. Gaun, khususnya, gagal memenuhi harapan.
“Terus terang, kami belum memiliki kombinasi mode dan nilai yang tepat untuk kategori tersebut,” katanya, seraya menambahkan bahwa tantangan merek itu mencerminkan penawaran produknya dan bukan lemahnya sentimen konsumen.
Chief Financial Officer Katrina O’Connell mengatakan bahwa revisi proyeksi Gap terutama disebabkan oleh Old Navy, di mana penjualan comparable untuk tahun ini diperkirakan datar hingga naik 1%.
Peritel yang berbasis di San Francisco itu juga memperkirakan penjualan bersih pada kuartal berjalan akan datar hingga turun 1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lebih rendah dari estimasi analis.
Para peritel tengah berupaya menarik konsumen ketika mereka menghadapi harga bensin yang tinggi dan inflasi yang masih bertahan. Banyak pembeli mengurangi pengeluaran dan menunda pembelian mahal, sehingga memberi dorongan bagi merek yang menawarkan nilai terjangkau.
Saham pesaingnya, American Eagle Outfitters Inc., juga mengalami penurunan dua digit dalam perdagangan setelah jam bursa pada Kamis setelah peritel tersebut melaporkan penjualan comparable store yang mengecewakan untuk kuartal fiskal pertama.
(bbn)






























