Dengan demikian, lanjut dia, pertumbuhan 5,8% masih terlihat layak sebagai skenario optimistis-terkendali, tetapi angka 6,5% merupakan target dorongan kebijakan. Untuk mencapai 6,5%, ekonomi perlu mesin pertumbuhan yang lebih luas dari sekadar konsumsi musiman dan belanja negara.
Di sisi lain, dia menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 memang kuat yakni sebesar 5,61%, tetapi sebagian didorong faktor Ramadan, Idulfitri, dan belanja pemerintah. Kondisi tersebut, belum cukup menjadi bukti bahwa ekonomi sudah masuk jalur pertumbuhan 6% secara berkelanjutan.
“Kredit April 2026 memang masih tumbuh 9,98%, dengan kredit investasi tumbuh 19,48%, tetapi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate ke 5,25% dan tekanan rupiah dapat menahan pembiayaan sektor riil bila berlangsung lama,” beber Josua.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini peluang Indonesia cukup besar untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut.
“Sekarang saja, tahun ini aja kita dorong menekati 6%, jadi peluangnya besar sekali. Saya harap tahun depan mesin-mesin swastanya udah berjalan lebih baik dibanding sekarang,” kata Purbaya saat ditemui di kompleks Parlemen, Rabu (20/5/2026).
Menurut Purbaya dengan mesin-mesin yang berasal dari swasta roda ekonomi akan bergerak lebih cepat lantaran saat ini sektor swasta belum sepenuhnya bergerak.
Purbaya juga menegaskan belum akan ada pajak baru di tahun depan. Sebagai informasi, Purbaya pernah mengatakan bahwa dia akan mengenakan pajak saat perekonomian sudah tumbuh lebih dari 6,5%
“Nah kita akan lihat secara selektif. Itu asumsi itu belum ada kenaikan pajak baru, tapi kalau nanti udah cukup sehat ekonomi masyarakat, ya kita akan pikirkan ini secara bertahap.”
Purbaya bilang dirinya akan menerapkan pajak yang bisa menggerakan daya beli masyarakat dan juga arah perekonomian Indonesia.
Postur Fiskal dan Asumsi Makro 2027
- Rupiah : Rp16.800/US$ hingga Rp17.500/US$
- Suku Bunga SBN Tenor 10 Tahun: Dipatok pada rentang 6,5% hingga 7,3%.
- Defisit APBN 2027: Dijaga ketat di kisaran 1,80% hingga maksimal 2,40% dari PDB, yang lebih rendah dari realisasi defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92%.
- Pendapatan Negara: Target 11,82% hingga 12,40% dari PDB.
- Belanja Negara: Alokasi 13,62% hingga 14,80% dari PDB untuk membiayai program prioritas nasional.
- Pertumbuhan Ekonomi: Ditargetkan mencapai 5,8% hingga 6,5% sebagai batu loncatan menuju target 8% pada 2029.
Di sektor energi, postur fiskal akan ditopang oleh asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) di kisaran US$70-US$95 per barel, target lifting minyak bumi 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bpd), serta lifting gas bumi 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari.
(lav)




























